Studi ini juga menelusuri data longitudinal untuk melihat perkembangan otak dan pola tidur dalam dua tahun berikutnya.
BACA JUGA:Menguak Jejak Evolusi Mawar: Perjalanan dari Bunga Kuning ke Simbol Cinta
Hasilnya menunjukkan bahwa kebiasaan tidur dan performa otak cenderung tetap konsisten, yang memperkuat pentingnya tidur yang cukup sejak dini.
Menurut Qing Ma, penulis utama studi dari Fudan University, meski penelitian ini belum bisa membuktikan sebab-akibat secara langsung, temuan ini sejalan dengan penelitian lain yang menegaskan peran tidur dalam konsolidasi memori.
Ironisnya tak satu pun dari kelompok tersebut memenuhi rekomendasi American Academy of Sleep Medicine yang menyarankan remaja tidur antara 8 sampai 10 jam dalam setiap malam.
Rata-rata, para peserta kekurangan sekitar 45 menit waktu tidur setiap harinya, Hal ini dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tekanan akademis, aktivitas sosial, paparan cahaya layar, hingga perubahan biologis alami saat pubertas yang menyebabkan remaja sulit tidur lebih awal.
BACA JUGA:Tiga Museum Edukatif di Lampung yang Wajib Dikunjungi
Beberapa sekolah di Amerika telah mencoba menyesuaikan jam masuk agar lebih selaras dengan ritme biologis remaja—sebuah langkah yang kini mendapat dukungan dari hasil studi ini.
Meskipun sulit mencapai waktu tidur ideal, menambahkan 15 hingga 20 menit tidur setiap malam sudah dapat memberikan manfaat nyata.
Langkah-langkah seperti mengurangi penggunaan perangkat sebelum tidur, menjaga jadwal tidur yang konsisten, dan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman dapat membantu remaja tidur lebih baik.
Studi lanjutan direncanakan untuk mengeksplorasi pengaruh tidur terhadap regulasi emosi, kesehatan mental, dan perilaku.
Namun satu hal sudah jelas, tidur yang berkualitas adalah investasi penting untuk perkembangan pada otak remaja.(*)