Medialampung.co.id - Warga di Jalan Mata Air, RT 02 LK III, Kelurahannya Pinang Jaya, Kecamatan Kemiling, Kota Bandarlampung, mengeluhkan banjir dan tanah longsor yang menerjang rumah mereka.
Hal ini diduga akibat aktivitas pengerukan bukit yang terjadi di sekitar rumah warga. Maniso, salah seorang warga setempat mengatakan, ada tiga pemukiman yang terkena dampaknya langsung dari longsor dan banjir tersebut yakni Gang Sepakat, Kampung Tempel dan Jalan Kedondong. Tiga wilayah tersebut terkena dampak dari penggundulan bukit yang disinyalir akan dibangun perumahan oleh PT. Griya Artha Jaya. "Kami setiap hujan datang selalu was-was, rumah saya kebanjiran, mohon kiranya pihak pemkot meninjau kembali perizinan pembangunan perumahan tersebut, karena dampaknya bukan hari ini saja, tetapi nantinya sumur-sumur warga akan kekeringan," ujar Maniso, saat dihubungi pada Selasa (29/3). Menurutnya, bukit yang dulunya penuh tanaman, dikala hujan pepohonan masih bisa menyerap air hujan. Namun, kini setelah bukit gundul air hujan mengalir deras, bersamaan dengan material batuan dan tanah, akibatnya tanah longsor dan banjir menerjang rumah warga yang ada di bawahnya. "Mau kemana lagi kami mengadu, makanya kami lapor ke DPRD oak Agus Djumadi, kami minta tolong perijinan nya ditinjau ulang, karena sangat merugikan warga," ungkapnya. Menyikapi hal tersebut, anggota Komisi III DPRD Kota Bandarlampung Agus Djumadi mengaku geram dan akan mengundang hearing pihak pengembangan perumahan. "Ya kalau daerah resapan air itu nggak boleh dibangun perumahan, karena akan berakibat fatal nantinya, ada dampak banjir dan air sumur warga bisa kering," ujarnya. "Nanti kita akan panggil mungkin bisa di Kamis besok, surat ke pimpinan sudah masuk. Saya juga memang sudah dapat laporan langsung dari warga dan diberikan video saat hujan dan tanah longsor itu, memang sangat membahayakan, makanya kita undang hearing semua stakeholder, bagaimana solusinya," tandas politisi PKS tersebut.(jim/mlo)Bukit Digunduli, Warga Pinang Jaya Kebanjiran
Selasa 29-03-2022,17:30 WIB
Editor : Budi Setiyawan
Kategori :