Startup Binaan Pertamina Masuk Top 6 Dunia di Ajang GSIC 2026 AS

Startup Binaan Pertamina Masuk Top 6 Dunia di Ajang GSIC 2026 AS

Tim TERANGIN, startup binaan Pertamina berhasil menempati posisi 6 besar saat tampil di ajang Fowler Global Social Innovation Challenge 2026 yang digelar di University of San Diego, Amerika Serikat awal Mei lalu--

SAN DIEGO – Komitmen PT Pertamina (Persero) dalam membina inovator muda melalui semangat Energizing Indonesia kembali membuahkan hasil di tingkat internasional.

Startup TERANGIN, jebolan program Pertamuda Seed & Scale 2025, sukses menembus jajaran Top 6 dan meraih peringkat ke-4 dalam ajang bergengsi Fowler Global Social Innovation Challenge 2026 yang berlangsung di University of San Diego pada 1-2 Mei 2026.

Mewakili delegasi Indonesia, TERANGIN yang berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember berhasil menyisihkan 43 finalis dari 10 negara. Mereka bersaing dengan kampus-kampus dunia seperti Georgetown University dan University of London.

TERANGIN menghadirkan solusi berkelanjutan berupa alat perangkap hama tanaman berbasis energi terbarukan yang mengombinasikan kincir angin dan panel surya. Inovasi tersebut dinilai mampu menjadi solusi bagi petani sekaligus mendukung agenda transisi energi global.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan pencapaian ini menjadi bukti nyata peran Pertamina dalam membangun ekosistem startup yang kompetitif secara global.

“Keberhasilan TERANGIN di San Diego menjadi validasi bahwa inovasi anak bangsa memiliki standar dunia. Melalui Pertamuda, kami tidak hanya memberikan pendanaan, tapi juga pendampingan berkelanjutan agar ide kreatif mahasiswa dapat bertransformasi menjadi solusi nyata yang diakui investor internasional. Ini adalah bagian dari visi Energizing Indonesia untuk membawa talenta lokal ke kancah global,” ujar Baron.

Founder TERANGIN, Muhammad Hanif, turut menyampaikan apresiasi atas dukungan penuh dari Pertamina selama proses persiapan hingga keberangkatan ke Amerika Serikat.

“Kompetisi Fowler GSIC memberikan kami perspektif baru tentang skala industri internasional. Kami berterima kasih kepada tim Pertamina dan Pertamuda yang telah memfasilitasi penuh, mulai dari mentoring intensif hingga pembiayaan kegiatan ini. Dukungan ini menjadi katalis penting bagi kami untuk naik level menjadi social enterprise yang berdampak luas,” tutur Hanif.

Selain TERANGIN, delegasi Indonesia juga diwakili oleh Pe-NOVTRA dari Politeknik Elektronika Negeri Surabaya yang membawa inovasi alat panen kelapa sawit berbasis self-charging system atau piezoelektrik.

Meski belum menembus enam besar, inovasi tersebut mendapat perhatian positif dari para juri internasional.

Atas pencapaian sebagai peringkat ke-4, TERANGIN berhak memperoleh pendanaan sebesar USD 3.000 untuk pengembangan bisnis lebih lanjut.

Partisipasi ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta kewirausahaan sosial global serta membuka peluang kolaborasi dengan berbagai mitra internasional.

Pertamuda Seed & Scale sendiri merupakan program PT Pertamina (Persero) untuk menjaring dan membina bibit wirausaha muda di perguruan tinggi.

Memasuki tahun kelima pelaksanaan, program tersebut telah melibatkan lebih dari 14.000 mahasiswa dari ratusan universitas di Indonesia dengan fokus pada pengembangan bisnis yang mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) dan ketahanan energi nasional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: