Pinjaman Online dan Gaya Hidup Atau FOMO
Bagi yang membutuhkan pembiayaan, alternatif seperti layanan keuangan berbasis syariah dapat dipertimbangkan karena menawarkan sistem yang lebih transparan dan tidak memberatkan--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Pernah merasa uang yang baru saja diterima tiba-tiba habis tanpa jejak? Fenomena ini semakin sering terjadi di era digital, ketika tekanan untuk tampil “sempurna” di media sosial makin kuat.
Banyak orang, terutama anak muda, terdorong untuk mengikuti tren agar terlihat sukses atau keren, meski kondisi keuangan sebenarnya tidak mendukung.
Di tengah situasi tersebut, kehadiran pinjaman online (pinjol) menjadi solusi instan yang tampak menggiurkan. Cukup dengan KTP dan verifikasi singkat, dana bisa langsung cair dalam waktu cepat. Namun, dibalik kemudahan itu, tersimpan resiko besar yang sering kali tidak disadari sejak awal.
Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan, sektor fintech lending masih menghadapi tantangan serius, termasuk angka gagal bayar yang fluktuatif. Menariknya, sebagian besar kasus justru berasal dari kalangan muda yang terjebak dalam gaya hidup konsumtif.
BACA JUGA:Sistem Kerja Freelance yang Wajib Dipahami Sebelum Terjun
Gaya hidup seperti ini sering dikaitkan dengan fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut ketinggalan tren. Mulai dari membeli gadget terbaru, mengikuti tren fashion, hingga nongkrong di tempat mahal demi konten media sosial. Ketika keinginan lebih besar daripada kemampuan, pinjol sering dijadikan jalan pintas.
Jika ditinjau dari perspektif ekonomi syariah, kondisi ini tentu menjadi perhatian serius. Dalam prinsip syariah, utang seharusnya digunakan secara bijak dan hanya untuk kebutuhan mendesak.
Selain itu, terdapat konsep Maqashid Syariah yang menekankan pentingnya menjaga harta (hifdzul maal). Ketika utang digunakan untuk memenuhi gaya hidup, maka tujuan tersebut justru bertentangan.
Masalah lain yang sering muncul adalah bunga tinggi dan sistem pembayaran yang memberatkan. Tidak sedikit orang yang akhirnya terjebak dalam siklus utang berkepanjangan meminjam dari satu aplikasi untuk menutup utang di aplikasi lain.
BACA JUGA:Dari Nol hingga Profesional, Freelance Jadi Jalan Karier Masa Kini
Situasi ini bukan hanya berdampak pada kondisi finansial, tetapi juga kesehatan mental. Tekanan dari penagihan yang agresif bahkan bisa memicu stres berat.
Pada dasarnya, persoalan ini tidak hanya berasal dari penyedia pinjaman, tetapi juga dari rendahnya literasi keuangan masyarakat. Banyak orang masih sulit membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Padahal, memahami perbedaan tersebut adalah langkah awal untuk mengelola keuangan dengan sehat.
Kita juga perlu lebih bijak dalam menyikapi apa yang terlihat di media sosial. Tidak semua yang tampak mewah mencerminkan kondisi sebenarnya. Memaksakan diri demi gengsi justru bisa membawa dampak jangka panjang yang merugikan.
Sebagai langkah perbaikan, peran pemerintah dalam hal ini melalui Otoritas Jasa Keuangan sangat penting untuk menertibkan praktik pinjol ilegal. Namun, dari sisi individu, edukasi finansial tetap menjadi kunci utama. Membiasakan diri menabung, mengatur pengeluaran, dan memahami risiko utang adalah hal yang wajib dilakukan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
