Tradisi Lopis Raksasa di Pekalongan, Simbol Kebersamaan dalam Syawalan
Tradisi Lopis Raksasa di Pekalongan merupakan salah satu contoh kekayaan budaya Indonesia yang penuh nilai dan makna. Foto:Instagram@Zulpa Zul--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Tradisi menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang kaya akan budaya dan nilai kearifan lokal. Salah satu tradisi unik yang masih bertahan hingga kini adalah Lopis Raksasa di Kota Pekalongan. Tradisi ini digelar dalam rangka perayaan Syawalan, yaitu momen yang berlangsung pada hari kedelapan bulan Syawal, sekitar sepekan setelah Idul Fitri.
Perayaan ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarat makna kebersamaan, spiritualitas, dan nilai sosial yang kuat di tengah masyarakat.
Tradisi Lopis Raksasa, yang juga dikenal dengan sebutan Lopisan, merupakan kegiatan tahunan masyarakat Kelurahan Krapyak, khususnya di wilayah Pekalongan Utara. Pada momen tersebut, ribuan warga berkumpul untuk bersilaturahmi, saling berkunjung, serta menikmati hidangan yang disediakan secara gratis oleh warga setempat.
Ciri khas utama tradisi ini adalah hadirnya lopis berukuran raksasa. Lopis sendiri merupakan makanan tradisional berbahan dasar beras ketan yang disajikan dengan gula merah cair dan parutan kelapa. Dalam tradisi ini, lopis dibuat dalam ukuran sangat besar hingga menjadi daya tarik utama.
Ukurannya bisa mencapai tinggi sekitar dua meter dengan diameter lebih dari satu meter dan berat hingga ratusan kilogram. Proses pembuatannya pun tidak sederhana, karena membutuhkan waktu berhari-hari serta peralatan khusus seperti dandang berukuran besar.
Setelah matang, lopis raksasa dipindahkan menggunakan alat bantu seperti katrol. Puncak acara ditandai dengan pemotongan lopis oleh pejabat daerah, kemudian dibagikan kepada masyarakat dan pengunjung. Momen ini menjadi simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan yang selalu dinantikan.
Tradisi ini memiliki akar sejarah panjang yang berkaitan dengan dakwah dan kebiasaan religius masyarakat setempat. Lopis Raksasa diyakini telah ada sejak akhir abad ke-19, meskipun perayaan besar-besaran mulai berkembang pada pertengahan abad ke-20.
Tokoh penting di balik tradisi ini adalah KH Abdullah Sirodj, seorang ulama yang dikenal aktif mengamalkan puasa Syawal serta mengajak masyarakat melakukan hal serupa. Pada masa itu, warga Krapyak cenderung menunda silaturahmi hingga puasa Syawal selesai sebagai bentuk penghormatan.
Karena itu, suasana Lebaran baru benar-benar terasa meriah pada hari kedelapan Syawal. Untuk merayakan momen tersebut, KH Abdullah Sirodj memilih lopis sebagai hidangan utama karena memiliki filosofi yang sejalan dengan nilai Syawalan.
Seiring waktu, tradisi ini terus berkembang dan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. Pemotongan lopis oleh kepala daerah pun menjadi bagian penting dalam rangkaian acara.
Di balik bentuknya, lopis menyimpan makna filosofis yang mendalam. Beras ketan sebagai bahan utama memiliki sifat lengket yang dalam bahasa Jawa diartikan sebagai “kraket” atau erat. Hal ini melambangkan pentingnya persatuan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat.
Warna putih pada lopis juga mencerminkan kesucian, sejalan dengan makna Idul Fitri sebagai momen kembali ke fitrah. Tradisi ini menjadi simbol bahwa manusia diharapkan menjaga kesucian tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, daun pisang sebagai pembungkus melambangkan kehidupan dan keberkahan, sementara tali pengikat dari serat alami menggambarkan kekuatan dalam menjaga hubungan antarsesama. Seluruh unsur tersebut menyampaikan pesan tentang pentingnya harmoni, ketulusan, dan nilai kebaikan dalam kehidupan sosial.
Yang membuat tradisi Lopis Raksasa semakin istimewa adalah keterlibatan langsung masyarakat. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut berpartisipasi dalam persiapan hingga pelaksanaan acara.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

