Bukan Tak Mau Kerja Kantoran, Anak Muda Hanya Lebih Rasional
Anak muda memilih cara kerja baru demi bertahan di dunia kerja modern.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Pilihan banyak anak muda untuk meninggalkan kerja kantoran kerap disalahartikan sebagai sikap malas, tak loyal, atau anti aturan.
Padahal, jika ditarik lebih dalam, keputusan itu justru lahir dari satu hal yang sangat masuk akal: rasionalitas menghadapi realitas zaman.
Generasi hari ini tumbuh di tengah perubahan ekonomi yang cepat, biaya hidup yang terus naik, serta ketidakpastian dunia kerja.
Mereka bukan menolak bekerja, melainkan menolak sistem kerja yang tak lagi memberi rasa aman dan adil.
BACA JUGA:Gaji Bulanan Tak Lagi Sakral, Proyek Jadi Andalan
Bagi generasi sebelumnya, kerja kantoran identik dengan stabilitas. Gaji bulanan, jenjang karier, dan status karyawan tetap menjadi tujuan utama. Namun kondisi itu kini mulai bergeser.
Banyak anak muda menyaksikan langsung bagaimana perusahaan melakukan efisiensi, PHK massal, hingga kontrak kerja yang semakin fleksibel.
Gaji tetap tidak selalu sejalan dengan beban kerja dan kenaikan biaya hidup. Dalam situasi seperti ini, bekerja keras tidak selalu berarti hidup lebih layak.
Dari sini muncul pertanyaan logis: jika risiko tetap ada, mengapa harus terikat pada satu sistem kerja saja?
BACA JUGA:Laptop, WiFi, dan Keberanian Menolak Jalan Lama
Berbeda dari stigma yang melekat, freelance bukan jalan kabur dari tanggung jawab. Justru sebaliknya, sistem kerja ini menuntut kedisiplinan tinggi, kemampuan mengatur waktu, serta konsistensi menjaga kualitas.
Anak muda memilih freelance karena melihat peluang. Dengan keterampilan tertentu, mereka bisa mengerjakan beberapa proyek sekaligus, menentukan nilai kerja sendiri, dan memperluas jaringan tanpa batas geografis.
Pendapatan tidak lagi bergantung pada satu sumber, melainkan pada kemampuan membaca peluang.
Dunia kerja hari ini semakin menilai seseorang dari apa yang bisa ia hasilkan, bukan dari di mana ia bekerja. Portofolio, pengalaman proyek, dan rekam jejak karya menjadi mata uang utama, terutama di industri kreatif dan digital.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
