Gaji Bulanan Tak Lagi Sakral, Proyek Jadi Andalan

Gaji Bulanan Tak Lagi Sakral, Proyek Jadi Andalan

Ketika gaji tetap kehilangan makna, proyek jadi simbol kemandirian pekerja digital.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Gaji bulanan selama puluhan tahun diposisikan sebagai simbol keamanan hidup.

Angka tetap yang masuk setiap akhir bulan dianggap sebagai penanda stabilitas, kepastian, dan keberhasilan seseorang menapaki dunia kerja. Namun, realitas hari ini menunjukkan satu hal penting: gaji bulanan tak lagi sesakral dulu.

Di tengah naiknya biaya hidup, stagnasi UMR di banyak daerah, serta gelombang PHK yang terus berulang, banyak pekerja mulai mempertanyakan satu pertanyaan mendasar. Apakah gaji bulanan benar-benar menjamin rasa aman?

Perubahan lanskap kerja membuat jawaban atas pertanyaan itu semakin kompleks. Ekonomi digital membuka ruang baru di mana proyek, bukan lagi gaji tetap, justru menjadi penopang utama penghasilan.

BACA JUGA:Dunia Kerja Berubah Cepat, Anak Muda Menyesuaikan Diri

Dari penulis lepas, desainer grafis, videografer, editor, hingga pengelola media sosial, sistem kerja berbasis proyek kini menjelma menjadi alternatif yang semakin masuk akal.

Bagi sebagian orang, proyek menawarkan fleksibilitas yang tak pernah diberikan sistem kerja konvensional.

Penghasilan memang tidak datang secara rutin setiap bulan, tetapi peluangnya jauh lebih dinamis.

Dalam satu periode, nilai satu proyek bahkan bisa melampaui gaji bulanan yang selama ini diterima di kantor.

BACA JUGA:Freelance Kreatif dan Masa Depan Kerja yang Sedang Ditulis Ulang

Fenomena ini tidak lahir tanpa sebab. Dunia kerja formal kini dihadapkan pada efisiensi, otomatisasi, dan target yang semakin ketat.

Status karyawan tetap tidak lagi identik dengan jaminan jangka panjang. Ketika PHK bisa datang kapan saja, kepastian yang selama ini melekat pada gaji bulanan mulai kehilangan maknanya.

Sebaliknya, kerja berbasis proyek menuntut kemandirian. Pekerja dituntut untuk terus mengasah keterampilan, membangun portofolio, dan menjaga reputasi.

Stabilitas tidak lagi datang dari kontrak kerja, melainkan dari kemampuan beradaptasi dan konsistensi kualitas.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: