Kapak Genggam: Alat Batu Penting dalam Kehidupan Manusia Purba
Kapak genggam bukan sekadar batu tajam biasa, melainkan simbol awal perjalanan panjang manusia dalam mengembangkan teknologi. - foto Instagram@andy_abangireng--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Kapak genggam merupakan salah satu peninggalan terpenting dari Zaman Batu yang memberikan gambaran jelas tentang bagaimana manusia purba bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya.
Alat ini menjadi bukti awal kemampuan manusia dalam memanfaatkan alam, khususnya batu, sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Meski bentuknya sederhana, kapak genggam memiliki peran besar dalam perkembangan teknologi dan peradaban manusia awal.
BACA JUGA:Nasi Campur: Hidangan Nusantara dengan Ragam Lauk dan Cita Rasa
Pengertian Kapak Genggam
Kapak genggam adalah alat yang terbuat dari batu keras dan digunakan dengan cara digenggam langsung oleh tangan, tanpa menggunakan gagang. Bentuknya umumnya lonjong, bulat telur, atau menyerupai segitiga, dengan salah satu sisi atau ujungnya dibuat tajam.
Ketajaman ini diperoleh melalui proses pemangkasan atau pemecahan batu secara berulang-ulang hingga menghasilkan sisi yang runcing.
Dalam kajian arkeologi, kapak genggam dikenal dengan istilah hand axe. Alat ini termasuk dalam kategori alat batu kasar karena proses pembuatannya masih sangat sederhana dan belum melalui tahap penghalusan.
Kapak genggam banyak ditemukan di situs-situs prasejarah, baik di Indonesia maupun di berbagai belahan dunia lainnya.
BACA JUGA:Cara Cerdas Klaim Link DANA Kaget 19 Januari 2026 Agar Tidak Zonk
Zaman dan Manusia Pendukungnya
Kapak genggam digunakan terutama pada masa Paleolitikum atau Zaman Batu Tua. Pada masa ini, manusia purba hidup secara nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari sumber makanan. Mereka sangat bergantung pada alam, seperti berburu hewan liar dan mengumpulkan tumbuhan.
Manusia pendukung kebudayaan kapak genggam antara lain adalah Homo erectus dan manusia purba lainnya. Di Indonesia, kapak genggam banyak ditemukan di wilayah Pacitan, Jawa Timur, sehingga kebudayaan alat ini sering disebut sebagai Kebudayaan Pacitan.
Penemuan tersebut menunjukkan bahwa manusia purba di Nusantara sudah memiliki kemampuan dasar dalam teknologi alat batu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
