Misteri Prasasti Tapak Bimo di Pacitan, Simbol Tapak Kaki dan Aksara Kuno
Prasasti Tapak Bimo berpotensi menjadi ikon sejarah baru Pacitan, sekaligus memperkaya narasi besar sejarah Jawa. Foto:Instagram@amattaufan--
MEDIALAMPUNG.CO.ID -Pacitan kembali menarik perhatian para pemerhati sejarah dan budaya setelah ditemukannya sebuah batu bertulis yang diyakini sebagai prasasti kuno.
Temuan ini dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutan “Tapak Bimo”, dan ditemukan di Desa Tanjungsari, Kabupaten Pacitan.
Penemuan tersebut tidak hanya membuka lembaran baru dalam kajian sejarah lokal, tetapi juga memunculkan berbagai pertanyaan tentang kehidupan dan kepercayaan masyarakat masa lampau di wilayah selatan Jawa.
Prasasti Tapak Bimo pertama kali ditemukan oleh Rudi Prasetyo, seorang warga yang memiliki kepedulian terhadap peninggalan sejarah.
BACA JUGA:Korban Tenggelam di Pantai Mandiri Belum Ditemukan, Tim SAR Gabungan Perluas Penyisiran
Menyadari nilai penting temuan tersebut, ia segera melaporkannya secara resmi kepada Balai Arkeologi/BRIN di Punung pada akhir Desember 2025.
Langkah ini dilakukan agar benda bersejarah tersebut dapat diteliti secara ilmiah dan terhindar dari kerusakan maupun penyalahgunaan.
Berdasarkan pengamatan awal, Rudi meyakini bahwa Tapak Bimo merupakan prasasti kuno yang ditulis menggunakan aksara atau bahasa Jawa Kuno.
Dugaan ini muncul dari bentuk guratan pada permukaan batu yang menyerupai pola tulisan khas masa klasik Nusantara.
BACA JUGA:KUR BRI 2026 Hadir dengan Aturan Baru: Bunga Flat 6 Persen dan Pinjaman Sampai Rp 500 Juta
Meski sebagian besar tulisan telah mengalami pelapukan akibat usia dan pengaruh alam, jejak aksara masih tampak samar dan menandakan bahwa batu tersebut bukan sekadar batu alam biasa.
Selain tulisan, hal yang paling mencolok dari Tapak Bimo adalah adanya pahatan berbentuk tapak kaki pada permukaan batu.
Unsur ini memunculkan beragam tafsir, karena dalam tradisi Nusantara, simbol tapak kaki kerap dikaitkan dengan makna sakral.
Dalam beberapa kebudayaan kuno, tapak kaki dianggap sebagai penanda kehadiran tokoh penting, leluhur, raja, atau bahkan simbol kekuatan spiritual yang dihormati oleh masyarakat setempat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




