Mengenal Tari Dana-Dana, Tarian Tradisional Khas Gorontalo

Mengenal Tari Dana-Dana, Tarian Tradisional Khas Gorontalo

Tari Dana-Dana merupakan tarian tradisional Gorontalo yang sarat nilai sosial dan keagamaan-Foto Instagram@yeyen_sidiki-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Indonesia dikenal sebagai negeri yang kaya akan seni dan budaya, salah satunya tercermin dalam ragam tarian tradisional yang hidup di setiap daerah. 

Di Provinsi Gorontalo, terdapat sebuah tarian rakyat yang sarat makna dan nilai sosial-keagamaan, yaitu Tari Dana-Dana

Tarian ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi simbol kebersamaan, dakwah, dan identitas budaya masyarakat Gorontalo yang hingga kini masih dilestarikan.

Tari Dana-Dana merupakan tarian tradisional yang kerap ditampilkan dalam berbagai acara penting, seperti penyambutan tamu kehormatan, pernikahan adat, hingga perayaan hari besar keagamaan. 

BACA JUGA:Cara Aman Mengembalikan Warna Rambut Alami Tanpa Rusak

Keberadaannya sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Gorontalo, terutama sebagai media interaksi sosial yang bersifat santun dan religius. 

Sejak awal kemunculannya, tarian ini telah berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan antarwarga sekaligus menyampaikan pesan-pesan moral.

Sejarah Tari Dana-Dana tidak dapat dipisahkan dari masuknya agama Islam ke wilayah Gorontalo. Tarian ini diyakini berkembang pada masa pemerintahan Sultan Amai, salah satu tokoh penting dalam sejarah Islamisasi Gorontalo. 

Konon, Tari Dana-Dana pertama kali dipentaskan dalam rangkaian perayaan pernikahan Sultan Amai dengan Putri Owutango. 

BACA JUGA:Gunung Egon Flores, Jejak Letusan di Timur Nusa Tenggara

Setelah prosesi adat selesai, masyarakat mengadakan pertunjukan tarian rakyat, dan Tari Dana-Dana menjadi salah satu tarian yang ditampilkan pada momen bersejarah tersebut.

Pada masa awal kemunculannya, Tari Dana-Dana diciptakan sebagai hiburan bagi remaja muslim. Namun, lebih dari itu, tarian ini juga dimanfaatkan sebagai media dakwah. 

Syair-syair yang dilantunkan oleh pengiring tarian berisi nasihat, ajakan berbuat baik, serta nilai-nilai keislaman yang disampaikan secara halus dan menyenangkan. 

Dengan cara inilah, ajaran Islam dapat diterima oleh masyarakat tanpa paksaan, melainkan melalui pendekatan budaya yang akrab dengan kehidupan sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: