Tradisi Nginang di Masa Majapahit: Rahasia Sehat dan Harum dari Leluhur Nusantara
Nginang bukan sekadar kebiasaan, tapi simbol budaya dan perawatan diri ala Nusantara kuno-Ilustrasi Gemini AI-
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, masyarakat Nusantara memiliki beragam kebiasaan unik yang kini mulai jarang ditemukan.
Salah satunya adalah tradisi nginang atau nyirih, yaitu kebiasaan mengunyah campuran daun sirih, buah pinang, dan kapur sirih.
Kegiatan sederhana ini bukan sekadar kebiasaan sehari-hari, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan perawatan diri yang sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu.
BACA JUGA:Jejak Wayang Kulit Majapahit, Warisan Agung Seni dan Spiritualitas Nusantara
Jejak Awal Tradisi Menginang
Kebiasaan menginang sebenarnya sudah ada jauh sebelum masa Majapahit. Bukti arkeologis memperlihatkan bahwa tradisi ini telah dikenal sejak masa Jawa Kuno. Relief pada Candi Borobudur dari abad ke-8 dan Candi Sojiwan di Klaten dari abad ke-9 menggambarkan orang-orang yang sedang mengunyah sirih atau membawa wadah sirih.
Dalam pahatan tersebut, tampak juga tempat khusus untuk menyimpan bahan kinang serta wadah untuk meludah, menandakan bahwa aktivitas ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Menurut para ahli sejarah, kegiatan menginang tidak hanya dilakukan sebagai hiburan atau pengisi waktu senggang, tetapi juga berkaitan dengan perawatan tubuh, khususnya kesehatan gigi dan mulut.
Orang-orang pada masa itu percaya bahwa menginang dapat menguatkan gigi, menjaga napas tetap segar, serta menolak rasa lapar ketika bekerja atau bepergian jauh.
BACA JUGA:Jejak Musik Krumpyung, Nada Bambu dari Masa Majapahit
Tiga Unsur Penting dalam Kinang
Dalam praktiknya, bahan utama kinang terdiri dari tiga unsur: buah pinang, daun sirih, dan kapur sirih (disebut juga injet). Beberapa daerah kemudian menambahkan bahan lain seperti tembakau, gambir, atau cengkih untuk memberikan rasa dan aroma yang berbeda.
Pinang yang digunakan biasanya diiris tipis, lalu dibungkus dengan daun sirih yang sudah diolesi kapur sirih. Ketika dikunyah, campuran ini menghasilkan rasa pedas, hangat, sekaligus menyegarkan.
Warna merah pada gigi dan bibir orang yang menginang menjadi ciri khas tersendiri, bahkan dianggap menambah daya tarik pada masa itu.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
