Kopi, Otak, dan Produktivitas: Antara Mitos dan Fakta Ilmiah
Secangkir kopi bisa bantu produktivitas, tapi efeknya tak sesederhana itu.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Kopi bukan sekadar minuman pembuka hari. Ia telah menjelma menjadi simbol semangat, teman setia saat lembur, hingga ritual wajib sebelum memulai aktivitas.
Namun di balik aroma khasnya yang menggoda, muncul pertanyaan yang kerap menjadi perdebatan: benarkah kopi mampu meningkatkan fokus dan produktivitas otak? Atau justru efek tersebut hanya bagian dari sugesti dan kebiasaan budaya modern?
Untuk memahami kebenarannya, mari menelusuri fakta ilmiah di balik secangkir kopi yang menemani jutaan orang setiap hari.
Kunci utama yang membuat kopi istimewa adalah kafein, senyawa alami yang bekerja langsung pada sistem saraf pusat.
BACA JUGA:Fenomena Aurora: Seni Alam dari Kutub Bumi
Zat ini berfungsi sebagai antagonis adenosin, yakni bahan kimia di otak yang menimbulkan rasa kantuk dan lelah.
Ketika kafein masuk ke aliran darah, ia mengambil alih reseptor adenosin dan “menipu” otak agar tetap terjaga.
Proses ini memicu peningkatan hormon dopamin dan norepinefrin—dua neurotransmiter yang bertanggung jawab atas rasa fokus, kewaspadaan, dan semangat berpikir cepat.
Penelitian dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menunjukkan bahwa konsumsi kopi secara moderat, sekitar dua hingga empat cangkir per hari, dapat meningkatkan performa kognitif dan konsentrasi jangka pendek.
BACA JUGA:Kisah Vaksin Pertama: Bagaimana Dunia Melawan Wabah
Secara ilmiah, dorongan energi dari kopi hanya bersifat sementara. Kafein memang mampu mempercepat reaksi, membantu otak tetap fokus, dan menjaga stamina berpikir. Namun efek tersebut biasanya bertahan sekitar tiga hingga lima jam.
Setelah kadar kafein menurun, tubuh kerap mengalami “crash”—rasa lelah, sulit konsentrasi, dan kadang disertai perubahan mood.
Inilah alasan mengapa sebagian orang merasa tidak bisa berfungsi tanpa secangkir kopi di pagi hari.
Menurut penelitian dalam Journal of Psychopharmacology, konsumsi kafein berlebihan dan jangka panjang dapat menurunkan sensitivitas tubuh terhadap efeknya, sehingga dibutuhkan dosis lebih tinggi untuk mendapatkan hasil yang sama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




