Gubernur Mirza : Koperasi Jadi Ujung Tombak Pemerataan Ekonomi Lampung
Musyawarah Wilayah Koperasi Indonesia wilayah Lampung--
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung untuk memperkuat peran koperasi sebagai instrumen utama dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus mempercepat pemerataan kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Gubernur saat menghadiri Musyawarah Wilayah (Muswil) Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Lampung, yang digelar di Balai Keratun Lt. III, Rabu 22 Oktober 2025.
Dalam paparannya, Gubernur Rahmat Mirzani Djausal menjelaskan bahwa Lampung memiliki potensi ekonomi yang besar, namun masih menghadapi tantangan pemerataan kesejahteraan.
Dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp483 triliun dan menempati posisi keempat terbesar di Sumatra, Lampung masih memiliki pendapatan per kapita Rp51 juta dan angka kemiskinan 10,6 persen.
BACA JUGA:Gubernur Mirza Bantu Siswi Korban Perundungan, Tegaskan Tak Boleh Ada Anak Lampung Putus Sekolah
“Akar masalahnya ada pada belum optimalnya penguasaan tata niaga dan hilirisasi produk. Sekitar 126 persen PDRB Lampung bersumber dari sektor pertanian dan perkebunan dengan nilai Rp150 triliun, tapi hanya 19 persen yang diolah di Lampung. Sisanya keluar dalam bentuk mentah,” ujar Gubernur.
Ia mencontohkan, komoditas kopi Lampung senilai Rp15 triliun per tahun masih diekspor dalam bentuk green bean.
Padahal, jika diolah menjadi roasted bean di daerah, nilainya bisa meningkat hingga 1,5 kali lipat.
Begitu pula pada komoditas jagung, di mana fluktuasi harga saat panen sering merugikan petani akibat minimnya sarana pengeringan (dryer) di desa.
BACA JUGA:Pohon Tumbang Timpa Kabel di Kotabumi, Sebabkan Gangguan Listrik
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gubernur Rahmat memperkenalkan Program Koperasi Merah Putih yang dirancang menjadi ujung tombak pembangunan ekonomi kerakyatan.
Program ini bertujuan untuk:
1. Mencegah keluarnya komoditas unggulan dalam bentuk mentah dengan membangun industri pengolahan di tingkat desa.
2. Meningkatkan daya saing dan daya tawar desa terhadap pasar dan perusahaan besar.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
