Tradisi Apeman di Yogyakarta: Simbol Syukur dan Pelestarian Budaya
Tradisi Apeman di Yogyakarta adalah warisan budaya yang menyatukan unsur religius, sosial, dan pariwisata. - Foto Instagram@jalutajam--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Yogyakarta selalu dikenal sebagai kota dengan nuansa budaya yang kental.
Selain keraton, seni pertunjukan, dan wisata sejarah, masyarakatnya juga masih menjaga berbagai tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Salah satu tradisi yang unik dan selalu dinantikan menjelang bulan Ramadan adalah Apeman, yaitu kegiatan membuat serta membagikan kue apem.
Walaupun sederhana, tradisi ini menyimpan pesan moral, nilai religius, dan kebersamaan yang tetap relevan hingga saat ini.
BACA JUGA:Eksplorasi Padang: Lima Destinasi Ikonik yang Wajib Masuk Daftar Liburan
Asal-usul dan Filosofi Kue Apem
Kue apem merupakan makanan tradisional berbahan dasar tepung beras, santan, gula, dan ragi yang dipanggang hingga beraroma harum. Teksturnya lembut dan bentuknya bulat. Namun, makna kue apem lebih dari sekadar hidangan manis.
Dalam pemahaman masyarakat Jawa, kata apem dianggap serupa dengan kata afwan dari bahasa Arab yang berarti “maaf.” Karena itu, membuat dan membagikan kue apem menjelang Ramadan dimaknai sebagai permohonan ampunan, ajakan untuk saling memaafkan, sekaligus bentuk kesiapan hati dalam menyambut bulan suci.
Selain itu, apem juga dipandang sebagai lambang rasa syukur atas rezeki dan kesehatan yang telah diberikan oleh Tuhan.
BACA JUGA:Tradisi Saprahan Melayu Pontianak
Prosesi Tradisi Apeman
Tradisi Apeman diadakan secara khusus di lingkungan Keraton Yogyakarta Hadiningrat. Acara biasanya dipimpin oleh permaisuri Sultan dan diikuti para perempuan keluarga keraton.
Prosesi dimulai dengan kegiatan ngebluk jeladren, yakni proses menumbuk atau mencampur bahan menjadi adonan.
Setelah itu dilanjutkan dengan tahap ngapem, yaitu memanggang adonan hingga berubah menjadi kue apem matang.
BACA JUGA:Tenun Corak Insang, Warisan Budaya Melayu Pontianak yang Menawan
Suasana kebersamaan sangat terasa dalam prosesi ini. Para anggota keraton bekerja sama, bercengkrama, dan menjaga adonan dengan teliti agar hasilnya sempurna.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
