Mubeng Beteng Yogyakarta, Tradisi Satu Suro Penuh Makna
Mubeng Beteng Yogyakarta, tradisi malam 1 Suro penuh makna spiritual dan kebersamaan-Foto Dok Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat-
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Setiap pergantian tahun baru Islam, Yogyakarta selalu diramaikan oleh sebuah prosesi budaya yang dikenal dengan nama Mubeng Beteng.
Tradisi ini masih bertahan hingga kini dan menjadi salah satu peristiwa penting yang ditunggu-tunggu masyarakat maupun wisatawan.
Bukan hanya kegiatan berjalan kaki mengelilingi benteng keraton, Mubeng Beteng menyimpan nilai spiritual, sejarah panjang, dan filosofi kehidupan.
Dalam bahasa Jawa, kata “mubeng” memiliki arti berputar atau mengelilingi, sedangkan “beteng” berarti benteng.
BACA JUGA:Spesifikasi MG4 EV: Mobil Listrik Futuristik yang Stylish
Dengan demikian, Mubeng Beteng berarti mengitari benteng keraton. Namun, tradisi ini bukan sekadar aktivitas fisik.
Prosesi yang biasanya dilaksanakan pada malam hari ini dianggap sebagai tirakat, yaitu laku batin untuk berdoa, memohon keselamatan, sekaligus melakukan introspeksi diri.
Yogyakarta memiliki beberapa jalur tradisi lampah ratri atau perjalanan malam, seperti rute dari benteng keraton menuju Pantai Parangkusumo dan jalur yang melewati masjid-masjid pathok nagari.
Dengan demikian, lintasan yang paling sering dipilih sampai saat ini adalah mengitari benteng keraton di pusat kota Yogyakarta.
BACA JUGA:Aksi BEM SI Kerakyatan 2 September Dibatalkan, Situasi Dinilai Tak Kondusif
Jejak Sejarah Tradisi
Asal mula tradisi tersebut diyakini sudah ada sejak zaman dahulu kala. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa kegiatan serupa telah dijalankan bahkan sebelum masa kerajaan Hindu-Buddha. Saat itu dikenal dengan istilah Muser, yaitu berjalan mengelilingi pusat tertentu sebagai simbol perputaran hidup.
Versi lain menautkan Mubeng Beteng dengan berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Satu Suro pada tahun 1580 benteng keraton selesai dibangun. Sejak itu, para prajurit mengelilinginya sebagai bagian dari tugas penjagaan.
Lama-kelamaan, kegiatan yang awalnya bersifat militer berubah menjadi ritual religius yang dijalankan abdi dalem. Mereka melakukannya dalam keheningan sambil memanjatkan doa, dari sinilah tradisi Mubeng Beteng mulai lahir.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




