Mayor Jenderal TNI Oktaheroe Ramsi Digadang Jadi Pangdam Pertama Lampung-Bengkulu

Mayor Jenderal TNI Oktaheroe Ramsi Digadang Jadi Pangdam Pertama Lampung-Bengkulu

Mayor Jenderal TNI Oktaheroe Ramsi--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Nama Mayor Jenderal TNI Oktaheroe Ramsi mencuat sebagai kandidat kuat untuk memimpin Komando Daerah Militer (Kodam) baru yang rencananya akan dibentuk di wilayah Lampung dan Bengkulu. 

Adapun nama Lampung - Bengkulu ini yaitu Kodam XX/Raden Inten. 

Sosoknya dinilai memiliki kapabilitas strategis berkat rekam jejak panjang di bidang diplomasi pertahanan dan pengalaman internasional yang luas.

Selama hampir satu dekade, Oktaheroe mengabdi di Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan RI, terutama di Direktorat Kerja Sama Internasional. 

BACA JUGA:Polisi Hilang di Gua Matu Belum Ditemukan, Pencarian Dihentikan Sementara

BACA JUGA:Sudah Rangkap Jabatan, PLT Kepala BKPSDM Bandar Lampung Jarang Ngantor?

Ia kerap menjadi Ketua maupun anggota delegasi dalam berbagai forum strategis bilateral, regional, dan global, mewakili TNI dan Kemenhan RI.

Kemampuan diplomasi dan komunikasi menjadi kekuatan utama perwira tinggi ini. 

Ia pernah terlibat langsung dalam pembahasan konflik perbatasan Thailand-Kamboja di forum internasional, di mana ia mendorong terciptanya solusi damai permanen, bukan sekadar gencatan senjata sementara.

Dukungan terhadap Oktaheroe datang dari berbagai kalangan, salah satunya tokoh masyarakat Lampung, Noperwan AB. 

BACA JUGA:Grebek Rumah di Metro, Polisi Temukan Narkoba dan Senpi, Oknum PNS Ikut Terlibat

Ia menilai sudah saatnya Oktaheroe diberi tanggung jawab strategis untuk memimpin di kampung halamannya.

“Dengan pengalamannya dalam menyelesaikan konflik dan menjalin diplomasi internasional, saya yakin beliau bisa menjadi mitra penting pemerintah daerah, terutama dalam menangani masalah sosial, agraria, dan keamanan di Lampung dan Bengkulu,” ujar Noperwan, Kamis 7 Agustus 2025.

Ia menyebutkan, persoalan kesenjangan sosial, konflik agraria, hingga kriminalitas yang masih terjadi di kedua provinsi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya militeristik, tetapi juga humanis dan strategis.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: