Agroedukasi BRI di Garut: Menanam Karakter Anak Lewat Kentang dan Ketekunan

Agroedukasi BRI di Garut: Menanam Karakter Anak Lewat Kentang dan Ketekunan

Siswa SD di Garut belajar bertani bersama BRI, menyatu dengan alam dan nilai tanggung jawab sejak dini-Foto Istimewa-

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Di balik lembutnya tanah pertanian Garut yang subur, sebuah kisah tentang harapan dan masa depan ditanamkan—bukan hanya bibit kentang, tapi juga bibit karakter dan integritas pada anak-anak bangsa.

BRI, melalui inisiatif sosial BRI Peduli, mempersembahkan aksi nyata dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2025. 

Dalam kegiatan bertajuk "Anak Negeri Dalam Aksi Lestarikan Nusantara", BRI menggandeng SDN 7 Kota Kulon Garut dalam sebuah program agroedukasi yang tak hanya mengajarkan tentang pertanian, tetapi juga membentuk nilai-nilai tanggung jawab sejak usia dini.

Taman Teknologi Pertanian di Kabupaten Garut mendadak menjadi ruang kelas terbuka yang lebih hidup daripada bangku sekolah. 

BACA JUGA:Syarat Lengkap KUR BRI Rp100 Juta Tanpa Jaminan

Di tengah kebun dan ladang kentang, anak-anak diajak menyentuh dunia nyata: menggenggam tanah, mencabut hasil panen, dan menyaksikan sendiri bagaimana proses hidup tumbuh dari akar yang sabar.

Program ini bukan sekadar kunjungan. Di bawah bendera Klaster Usaha Ganitri, anak-anak diselami dengan wawasan pertanian terintegrasi dan budidaya hortikultura dataran tinggi yang dikelola dengan sistem smart farming. Kentang bukan hanya tanaman, tapi jembatan menuju pelajaran hidup.

"Ini bukan hanya soal pertanian," ujar Agustya Hendy Bernadi, Corporate Secretary BRI, dengan nada penuh semangat. 

"Ini adalah upaya membentuk manusia-manusia kecil yang tahu arti usaha, tanggung jawab, dan integritas sejak dini," imbuhnya.

BACA JUGA:Gaji Melalui BRI, Hidup Lebih Mudah: Nurul Aina dan Cerita Keluarga Prajurit

Kegiatan agroedukasi ini mengajarkan lebih dari sekadar teknik tanam. Anak-anak diperkenalkan pada diversifikasi produk, seperti mengolah kentang menjadi makanan sehat dan bergizi. 

Dari proses ini, mereka belajar tentang nilai tambah, keberlanjutan, dan pentingnya inovasi dalam sektor pangan.

Di balik wajah-wajah mungil itu, tersimpan keingintahuan yang menyala.

“Kami belajar bagaimana kentang bisa menjadi makanan enak,” ujar salah satu siswa, sembari menunjukkan hasil panennya yang masih berbalut tanah.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait