Ramadan
Pelantikan Kajari

Berapa Banyak Manusia yang Dibutuhkan untuk Menyelamatkan Spesies dari Bencana Global?

Berapa Banyak Manusia yang Dibutuhkan untuk Menyelamatkan Spesies dari Bencana Global?

Manusia yang Diperlukan untuk Menyelamatkan Spesies dari Bencana pada Global. - Foto Freepik--

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Bayangkan jika suatu hari dunia dihantam bencana besar: tabrakan asteroid, perang nuklir global, atau pandemi mematikan. 

Di tengah kehancuran itu, muncul satu pertanyaan penting: berapa jumlah minimum manusia yang dibutuhkan agar peradaban tetap bertahan hidup?

Menurut para ilmuwan, jawabannya tak sesederhana satu angka pasti. Jenis bencana sangat mempengaruhi strategi bertahan hidup. 

Namun jika fokus hanya pada aspek biologi dan genetika, maka jumlah minimum manusia yang dibutuhkan sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan populasi dunia saat ini yang melebihi 8 miliar jiwa.

BACA JUGA:Lebah Lokal Australia Terancam oleh Dominasi Lebah Madu Pendatang

Cameron Smith, antropolog dari Portland State University, menyebut bahwa kelompok kecil beranggotakan ratusan orang bisa mempertahankan kehidupan dalam jangka panjang, asal dikelola dengan baik.

Ia merujuk pada komunitas kuno zaman Neolitikum yang berhasil bertahan selama ribuan tahun dengan populasi sekitar ratusan hingga seribu jiwa. 

Namun, populasi kecil ini sangat rentan terhadap risiko masalah genetik, terutama jika terjadi perkawinan antarkerabat secara berulang.

Untuk mencegah kelainan genetik atau ketidaksuburan, perlu keseimbangan antara jumlah pria dan wanita usia subur. 

BACA JUGA:Musik Lembut Terbukti Kurangi Stres pada Hewan Peliharaan dan Ternak

Selain itu, hubungan sosial antarkelompok juga penting guna memperkaya keragaman genetik.

Seth Baum dari Global Catastrophic Risk Institute menekankan bahwa tindakan pencegahan harus disiapkan jauh sebelum bencana terjadi.

Ia menyarankan pembangunan tempat perlindungan manusia yang dapat menjadi benteng terakhir peradaban, mirip seperti Global Seed Vault di Norwegia yang melindungi cadangan benih tanaman.

Contohnya, Selandia Baru terbukti efektif menjalankan isolasi ketat selama pandemi COVID-19. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: