Freelance dan Kelelahan yang Jarang Dibicarakan
Cerita tentang sisi lain freelance yang jarang dibicarakan.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Di mata banyak orang, freelance identik dengan kebebasan. Tidak terikat jam kantor, bisa bekerja dari mana saja, dan memiliki kendali atas waktu sendiri. Namun di balik citra fleksibel itu, ada kelelahan yang jarang terlihat dan sering kali tidak diakui.
Bagi pekerja lepas, batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi nyaris menghilang. Laptop menyala lebih lama, ponsel tak pernah benar-benar diam, dan proyek datang tanpa mengenal waktu. Kebebasan yang dijanjikan kerap berubah menjadi jam kerja tanpa ujung.
Tidak seperti pekerja kantoran yang memiliki jam pulang, freelancer sering hidup dalam ritme kerja yang terus berulang.
Selesai satu proyek, datang proyek berikutnya. Menolak berarti kehilangan peluang, menerima berarti menambah beban.
BACA JUGA:Freelance: Peluang Besar di Balik Risiko Besar
Kelelahan itu tidak selalu berupa fisik, melainkan mental. Tekanan untuk selalu siap, selalu cepat merespons, dan selalu tampil profesional membuat banyak freelancer sulit benar-benar beristirahat. Bahkan di hari libur, pikiran tetap bekerja.
Salah satu sisi paling melelahkan dari dunia freelance adalah ketidakpastian. Tidak ada gaji tetap, tidak ada jaminan bulan depan masih memiliki pekerjaan.
Ketika pemasukan sedang lancar, kecemasan tetap hadir karena tidak ada kepastian kapan aliran itu berhenti.
Kondisi ini memaksa freelancer untuk terus bekerja, bahkan saat tubuh dan pikiran sudah lelah. Bukan karena ambisi semata, melainkan karena rasa takut kehilangan kestabilan hidup.
BACA JUGA:Ketika Skill Menentukan Nilai, Bukan Jabatan
Ironisnya, kelelahan freelancer sering kali tidak dianggap serius. Karena bekerja dari rumah atau kafe, kelelahan itu dipersepsikan sebagai hal sepele. Padahal tekanan yang dialami tidak kalah berat dibanding pekerjaan formal.
Tidak adanya struktur, atasan tetap, atau sistem perlindungan membuat freelancer harus mengelola segalanya sendiri.
Dari mencari klien, mengatur keuangan, menjaga kualitas kerja, hingga merawat kesehatan mental.
Freelance bukan hanya soal kerja, tetapi juga soal bertahan. Banyak pekerja lepas yang menjalani hari-harinya dalam kesunyian, tanpa rekan kerja tetap untuk berbagi cerita atau keluh kesah. Semua ditanggung sendiri, dipikirkan sendiri, dan diselesaikan sendiri.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
