Ketimpangan juga terlihat dari absennya perlindungan sosial. Sebagian besar pekerja freelance tidak memiliki jaminan kesehatan, jaminan hari tua, maupun kepastian pendapatan.
Ketika sakit atau kehilangan klien, penghasilan bisa terhenti secara tiba-tiba tanpa mekanisme pengaman.
Masalah lain muncul dari dominasi platform digital. Algoritma sering kali menjadi penentu visibilitas dan peluang kerja, namun mekanismenya tidak selalu transparan.
Pekerja bisa kehilangan akses proyek hanya karena perubahan sistem, rating, atau kebijakan sepihak yang sulit diprotes.
BACA JUGA:Freelance: Antara Pilihan dan Keterpaksaan
Dalam situasi ini, relasi kerja menjadi timpang. Platform berperan layaknya pemberi kerja, tetapi tanpa kewajiban sebagaimana perusahaan konvensional.
Freelance berada di ruang abu-abu antara pekerja dan mitra, yang membuat posisi hukum mereka lemah.
Freelance sejatinya bukan masalah, melainkan sistem yang belum sepenuhnya matang. Tanpa regulasi yang adaptif dan perlindungan yang memadai, model kerja ini berpotensi memperlebar jurang ketimpangan.
Pekerja dengan keterampilan tinggi akan terus melaju, sementara yang lain tertinggal dalam kompetisi tanpa jaring pengaman.
BACA JUGA:Freelance dan Pertaruhan Masa Depan
Ke depan, dibutuhkan kebijakan yang mampu menyeimbangkan fleksibilitas dengan keadilan. Perlindungan dasar, transparansi platform, serta literasi pekerja menjadi kunci agar freelance benar-benar menjadi peluang bersama, bukan hanya milik segelintir orang.