Freelance dan Perubahan Cara Orang Bertahan Hidup

Rabu 25-02-2026,07:09 WIB
Reporter : Krisna Jeri
Editor : Budi Setiawan

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Dulu, bekerja identik dengan kantor tetap, jam kerja pasti, dan gaji bulanan yang stabil. Namun kini, realitas itu perlahan memudar.

Di tengah tekanan ekonomi, naik-turunnya dunia industri, dan perubahan teknologi yang begitu cepat, freelance muncul bukan lagi sebagai pilihan sampingan, melainkan sebagai strategi bertahan hidup.

Bagi banyak orang, menjadi pekerja lepas bukan soal gaya hidup bebas semata, melainkan jawaban atas keterbatasan lapangan kerja formal yang semakin sempit.

Ketika perusahaan melakukan efisiensi, kontrak dipangkas, dan rekrutmen dibatasi, freelance menjadi jalan alternatif untuk tetap memiliki penghasilan.

BACA JUGA:Freelance: Peluang Besar di Balik Risiko Besar

Dalam dunia freelance, jabatan tidak lagi menjadi ukuran utama. Yang paling menentukan adalah kemampuan.

Skill menjadi mata uang baru yang nilainya bisa melampaui titel dan ijazah. Desainer, penulis, editor video, programmer, hingga social media strategist kini bisa hidup dari proyek ke proyek tanpa harus terikat satu institusi.

Fenomena ini menandai perubahan besar dalam cara masyarakat memandang pekerjaan. Stabilitas tidak lagi hanya dicari melalui satu kantor, melainkan dari kemampuan beradaptasi dan terus mengasah kompetensi. Siapa yang relevan dengan kebutuhan pasar, dialah yang bertahan.

Tanpa disadari, freelance juga menjadi bentuk perlawanan sunyi terhadap sistem kerja yang kaku.

BACA JUGA:Ketika Skill Menentukan Nilai, Bukan Jabatan

Banyak pekerja memilih keluar dari rutinitas yang menekan demi fleksibilitas waktu, kesehatan mental, dan kendali atas hidup mereka sendiri.

Namun di balik fleksibilitas itu, terdapat risiko besar. Tidak ada jaminan pendapatan tetap, tidak ada tunjangan, dan tidak ada kepastian hari esok.

Semua bergantung pada konsistensi kerja, reputasi, serta kemampuan membangun jaringan.

Bagi generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, freelance bukan sekadar opsi darurat, tetapi sudah menjadi pola pikir.

BACA JUGA:Freelance dan Pertarungan Skill di Era Digital

Kategori :