Mereka lebih memilih membangun portofolio dibanding mengejar titel, lebih fokus mengasah skill daripada mengejar posisi.
Inilah sebabnya banyak anak muda berani keluar dari zona nyaman. Mereka memahami bahwa skill bersifat portabel, bisa dibawa ke mana saja, dan tidak terikat pada satu institusi.
Sayangnya, sistem pendidikan dan sebagian besar institusi masih terlalu menekankan gelar dan jabatan.
Kurikulum sering tertinggal dari kebutuhan industri. Akibatnya, banyak lulusan yang kaya teori tetapi miskin keterampilan praktis.
BACA JUGA:Freelance Mengajarkan Disiplin Tanpa Pengawas
Kesenjangan ini membuat skill yang dipelajari secara mandiri justru lebih bernilai di pasar kerja. Sertifikat nonformal, pengalaman proyek, dan kemampuan adaptasi sering kali lebih diperhitungkan dibanding ijazah semata.
Ke depan, dunia kerja akan semakin selektif. Jabatan bisa berubah, struktur bisa runtuh, namun skill akan selalu relevan.
Mereka yang terus belajar, memperbarui kemampuan, dan berani beradaptasi akan tetap memiliki nilai, di mana pun mereka berada.
Ketika skill menentukan nilai, jabatan hanyalah pelengkap. Yang bertahan bukan yang paling tinggi posisinya, melainkan yang paling siap menghadapi perubahan.
BACA JUGA:OJK Tertibkan Ribuan Pinjol Ilegal hingga Awal 2026, Ini Cara Resmi Melapor