Selain itu, telur rebus berbumbu atau telur pindang kerap dihadirkan sebagai simbol kesuburan dan kehidupan.
Sambal matah atau sambal embe turut melengkapi sajian dengan sensasi pedas segar yang memperkaya cita rasa keseluruhan.
Pada beberapa versi, Nasi Yasa juga dilengkapi dengan sayur urap atau jukut khas Bali.
Kehadiran sayuran ini membuat hidangan menjadi lebih seimbang dari segi gizi, memadukan karbohidrat, protein, dan serat dalam satu sajian.
BACA JUGA:Dua Pelaku Pencurian Aset BPBD Lampung Utara Ditangkap, Satu Masih Buron
Keunikan Bumbu dan Rasa
Daya tarik utama Nasi Yasa terletak pada penggunaan bumbu genep Bali, yaitu racikan rempah lengkap yang menjadi ciri khas masakan Pulau Dewata.
Bumbu ini terdiri dari bawang merah, bawang putih, lengkuas, jahe, kunyit, kencur, ketumbar, kemiri, cabai, serta berbagai rempah aromatik lainnya.
Proses pengolahan yang telaten membuat bumbu meresap hingga ke serat daging, menghasilkan cita rasa yang kompleks, gurih, pedas, sedikit manis, dan sangat harum. Inilah yang membedakan Nasi Yasa dari nasi campur pada umumnya.
BACA JUGA:Tecno Megabook S14: Laptop 14 Inci Paling Ringan di Dunia, Tipis tapi Ngebut
Peran Nasi Yasa dalam Kehidupan Masyarakat Bali
Dalam kehidupan masyarakat Bali, Nasi Yasa sering disajikan pada berbagai acara adat, seperti upacara keagamaan, syukuran keluarga, maupun perayaan hari besar tertentu.
Hidangan ini juga menjadi simbol kebersamaan karena biasanya dinikmati bersama-sama setelah prosesi adat selesai.
Seiring berkembangnya pariwisata, Nasi Yasa mulai dikenal lebih luas dan disajikan di sejumlah warung tradisional maupun rumah makan khas Bali. Meski demikian, nilai sakral dan filosofisnya tetap dijaga agar hidangan ini tidak kehilangan jati dirinya sebagai kuliner tradisional.
BACA JUGA:Xiaomi MIX 5 Dirumorkan Jadi HP Full-Screen Sejati, Kalahkan iPhone 18?
Nasi Yasa sebagai Warisan Kuliner Bali