Menguak Peran Genetik dan Lingkungan di Balik Langkah Awal Bayi

Minggu 18-05-2025,14:16 WIB
Reporter : Adi Pabara
Editor : Budi Setiawan

Temuan menarik lain adalah kaitan antara usia berjalan bayi dengan perkembangan otak, khususnya pada bagian korteks serebral—bagian otak yang berperan besar dalam kemampuan berpikir dan mengontrol gerakan.

Dalam beberapa kasus, bayi yang berjalan lebih lambat justru memiliki profil genetik yang berkaitan dengan prestasi akademik tinggi di kemudian hari. 

Artinya, bayi yang cepat berjalan belum tentu lebih pintar, dan sebaliknya. Hal ini memperkuat pemahaman bahwa perkembangan motorik bukan satu-satunya indikator keberhasilan masa depan anak.

Lebih lanjut, studi ini juga menemukan bahwa beberapa gen yang memengaruhi kemampuan berjalan memiliki hubungan negatif dengan risiko ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). 

BACA JUGA:Tomat untuk Perawatan Wajah: Kandungan, Manfaat, Cara Pakai, dan Efek Samping

Bayi yang mengalami keterlambatan motorik ringan justru cenderung memiliki risiko lebih rendah terkena gangguan ini.

Meski genetika berperan besar, lingkungan tetap memainkan peran penting dalam mendukung perkembangan bayi. 

Bayi yang memiliki ruang gerak luas, diberi dorongan dari orang tua, dan dibiasakan bergerak aktif, cenderung lebih cepat mengembangkan keterampilan motoriknya.

Faktor budaya juga turut berpengaruh. Di beberapa budaya, bayi dibiarkan bebas mengeksplorasi sejak dini, sementara di budaya lain, bayi lebih banyak digendong atau dibatasi ruang geraknya.

BACA JUGA:Cuma Sejuta, POCO C71 Berani Kasih Performa Cadas

“Perkembangan anak itu multidimensi. Kita tidak bisa menilainya hanya dari satu sisi, baik itu genetik maupun lingkungan,” jelas Prof. Ronald.

Dari sisi medis, temuan ini sangat berarti. Pemahaman terhadap peran genetik dalam perkembangan motorik membuka peluang untuk deteksi dini keterlambatan perkembangan.

Peneliti berharap bahwa di masa depan akan ada tes genetik sederhana yang membantu dokter mengenali bayi yang berisiko mengalami keterlambatan sejak dini. 

Dengan begitu, intervensi seperti fisioterapi atau program stimulasi motorik bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.

BACA JUGA:Wacana Legalisasi Kasino di Indonesia, Perlu Kajian Seperti UEA dan Malaysia

Meski begitu, para ahli menekankan bahwa tidak ada satu jalur perkembangan yang benar-benar “normal”. Setiap anak memiliki pola tumbuh kembang yang unik, dan variasi waktu berjalan merupakan hal yang sangat wajar.

Kategori :