Harga Kedelai Naik, Tempe Ikut Merangkak Naik

Rabu 23-02-2022,21:34 WIB
Editor : Budi Setiyawan

Medialampung.co.id - Tempe yang selama ini menjadi panganan sederhana kini harganya mulai merangkak naik seiring naiknya harga kacang kedelai yang menjadi bahan baku pembuatan tempe.

Agus, penjual tempe yang biasa diantar langsung oleh pengrajinnya mengatakan, dirinya terpaksa menaikkan harga tempe yang awalnya Rp9.000 menjadi Rp10.000.

“Mau gimana lagi, tempe ini kan makanan favorit masyarakat, pernah berapa hari kita gak dapat kiriman tempe, banyak pelanggan yang menanyakan, kita jelasin dari sananya tempe memang tidak dikirim awalnya saya juga kurang tau kalau bahan baku pembuatan tempe (kedelai) naik,” ujarnya 

Sementara itu Pandi (40), pengrajin tempe di Kampung Sawah mengaku mempunyai langganan untuk di rumahan ada sekitar 10 pelanggan dan untuk di pasar tradisional seperti pasar tempel Wayhalim langganannya sekitar 40 orang. 

“Sebelum harga kedelai naik kita tidak merubah ukuran, sekarang ini kita sesuaikan dengan harga kedelai saat ini, yang mencapai Rp11.500 per kilogram, dulu cuman sekitar Rp7.000 per kilogram Kedelai untuk pembuatan tempe,” akunya.

Pandi juga mengungkapkan, sekali produksi dirinya bisa menggunakan 74 kilogram kedelai dengan pendapatan sekitar Rp300 ribuan untuk pelanggan di warung rumahan.

“Saya nganternya malam untuk warung rumahan, kalau di pasar bisa dapat lebih, tapi tidak terlalu banyak karena makin kesini makin kita kurangi ukurannya," terangnya.

Sebelumnya, Harga tahu dan tempe diprediksi naik dalam beberapa bulan ke depan. Kenaikan harga tahu dan tempe ini merupakan imbas penurunan jumlah produksi kedelai di negara penghasil komoditas tersebut.

Indonesia masih mengimpor kedelai dari luar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Kemendag bersama seluruh pelaku usaha kedelai nasional akan terus berupaya menyediakan stok kedelai cukup untuk memenuhi kebutuhan industri perajin tahu dan tempe menjelang puasa dan Lebaran 2022,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan, Oke Nurwan, seperti dikutip dari Tempo.co.

Menanggapi kondisi itu, Kepala Dinas Pangan Bandarlampung, I Kadek Sumartha, menjelaskan distribusi kedelai di kota berjuluk Tapis Berseri, sejauh ini, tidak terlalu bergejolak.

Hal ini disebabkan kedelai hanya dikonsumsi kalangan terbatas, tidak seperti minyak goreng yang dikonsumsi semua lapisan masyarakat dari pengusaha hingga ibu rumah tangga.(*/mlo)

Tags :
Kategori :

Terkait