Api Karhutla TN Way Kambas Berhasil Padam, Senin Digelar Modifikasi Cuaca
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, memasuki tahap pendinginan. Meski titik api utama di area sekitar 673 hektare telah berhasil dipadamkan pada Sabtu 22 Agustus 2026 malam, tim gabungan masih disiagakan untuk mengantisipasi munculnya kembali bara api.
Pemerintah Provinsi Lampung bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyiapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijadwalkan berlangsung pada Senin 24 Agustus 2026.
Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Jihan Nurlela, mengatakan OMC diharapkan dapat membantu membasahi kawasan terdampak sehingga proses pendinginan dapat dilakukan secara lebih maksimal.
“Di hari Senin insyaallah akan ada modifikasi cuaca yang sudah terjadwal atau dijadwalkan oleh BNPB kepada kami,” ujar Jihan melalui akun Instagram pribadinya.
BACA JUGA:BMKG Catat 187 Hotspot di Lampung, Wilayah Utara dan Timur Terbanyak
Menurut Jihan, proses pemadaman yang dilakukan sejak Jumat 21 Agustus 2026 di Resort Kuala Penet menghadapi tantangan berupa akses menuju lokasi yang cukup sulit.
Kondisi tersebut membuat mobilisasi kendaraan dan distribusi air ke titik kebakaran menjadi tidak mudah.
“Kendala yang paling menjadi penyulit adalah akses. Aksesnya jauh sekali dari akses kendaraan,” katanya.
Penanganan kemudian dilakukan melalui pengerahan tim darat serta dukungan water bombing dari BNPB. Upaya tersebut berhasil mengatasi 13 titik panas atau hotspot yang sebelumnya terdeteksi di kawasan tersebut.
BACA JUGA:ILUNI UI Lampung Siapkan Lima Agenda Strategis, Fokus pada Pembangunan dan Pengabdian
Jihan memastikan pada Sabtu malam kondisi titik api telah berhasil dikendalikan.
Sementara itu, Humas Balai TNWK, Riri Fitriandi, mengatakan sekitar 250 personel gabungan masih berada di lapangan untuk melakukan proses pendinginan atau mopping-up.
Personel tersebut berasal dari Balai TNWK, TNI, Polri, Pemerintah Kabupaten Lampung Timur, serta Masyarakat Peduli Api (MPA).
Menurut Riri, proses pendinginan tetap menjadi perhatian utama karena sebagian kawasan yang terbakar memiliki karakteristik tanah gambut. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul meski api di permukaan telah padam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

