FGD Banjir Bandar Lampung: BBWS Mesuji Dorong Solusi DAS Terpadu

FGD Banjir Bandar Lampung: BBWS Mesuji Dorong Solusi DAS Terpadu

FGD penanganan banjir di Kampus IIB Darmajaya Bandar Lampung menghadirkan pemerintah, BBWS Mesuji, akademisi, dan tokoh nasional untuk merumuskan solusi terpadu.-Foto Dok-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana, bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji mengikuti Focus Group Discussion (FGD) yang membahas penanganan banjir di Kota Bandar Lampung. Kegiatan tersebut berlangsung di kampus IIB Darmajaya pada Selasa, 28 April 2026.

Forum diskusi ini menjadi langkah penting dalam mencari solusi jangka panjang terhadap persoalan banjir yang masih kerap terjadi di Kota Tapis Berseri. Sejumlah pihak dari kalangan akademisi, pemerintah, hingga tokoh nasional turut hadir memberikan masukan strategis.

FGD ini digagas oleh pimpinan perguruan tinggi, di antaranya Rektor IIB Darmajaya RZ Abdul Aziz, Rektor Universitas Lampung Prof. Lusmeilia Afriani, Rektor Universitas Bandar Lampung Prof. Yusuf Barusman, serta Rektor Institut Teknologi Sumatera Prof. I Nyoman.

Selain itu, hadir pula sejumlah tokoh nasional seperti Anggota DPD RI Bustami Zainudin dan Abdul Karim, serta anggota DPR RI Mukhlis Basri yang memberikan perhatian terhadap persoalan banjir di Bandar Lampung.

Kepala BBWS Mesuji, Elroy Kawari, menjelaskan bahwa pola banjir di Kota Bandar Lampung terus mengalami perubahan seiring meningkatnya curah hujan dan perubahan kondisi lingkungan.

Menurutnya, banjir yang terjadi pada 6 Maret lalu tercatat berada di 44 titik, sementara pada 11 April pola genangan telah bergeser ke lokasi berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa penanganan banjir membutuhkan pemetaan yang terus diperbarui.

“Pada 6 Maret banjir terjadi di 44 titik, kemudian pada 11 April pola banjir sudah berubah. Titik penanganan yang kami lakukan juga ikut bergeser,” jelas Elroy.

Ia menegaskan bahwa solusi penanganan banjir tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus menyeluruh dalam satu daerah aliran sungai (DAS), mengingat Bandar Lampung dilintasi oleh beberapa sungai besar.

Elroy menyebut sejumlah penyebab utama banjir, antara lain tingginya curah hujan, jebolnya tanggul, penyempitan badan sungai, hingga hambatan aliran air akibat penyempitan pada jembatan dan gorong-gorong.

“Persoalan utamanya berasal dari curah hujan yang tinggi, tanggul yang rusak, dan penyempitan sungai. Selain itu, penyempitan pada jembatan serta gorong-gorong juga membuat aliran air tidak berjalan lancar,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tingginya sedimentasi sungai yang semakin memperparah kondisi banjir. Karena itu, diperlukan upaya normalisasi sungai yang terencana dengan baik agar hasilnya efektif dan berkelanjutan.

Namun demikian, Elroy menegaskan bahwa normalisasi sungai tidak cukup hanya dengan pengerukan semata, melainkan harus didukung dengan masterplan besar dari hulu hingga hilir.

“Tidak bisa hanya sekadar dikeruk. Harus ada desain besar dari hulu sampai hilir karena banyak tanggul yang rendah dan kawasan permukiman padat yang berada di daerah rawan banjir,” tegasnya.

Melalui FGD ini, diharapkan lahir langkah konkret dan kolaboratif antara pemerintah daerah, BBWS, akademisi, dan masyarakat untuk menciptakan sistem penanganan banjir yang lebih efektif di Kota Bandar Lampung.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait