Dharma Santi Nyepi 1948: Merajut Harmoni dan Toleransi di Lampung Selatan

Dharma Santi Nyepi 1948: Merajut Harmoni dan Toleransi di Lampung Selatan

Dharma Santi jadi ruang silaturahmi dan rekonsiliasi sosial masyarakat--

MEDIALAMPUNG.CO.ID — Di tengah lanskap keberagaman yang menjadi kekayaan bangsa, Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan kembali menegaskan komitmennya dalam merawat toleransi antarumat beragama melalui kegiatan Dharma Santi Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948. Acara yang berlangsung hangat di Aula Pendopo, Lamban Rakyat ini menjadi ruang perjumpaan batin yang sarat makna, terutama karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan—sebuah simbol harmoni yang hidup dan nyata.

Kehadiran Radityo Egi Pratama bersama jajaran pemerintah daerah menandai keseriusan Pemkab dalam membangun kohesi sosial yang inklusif. Turut hadir pula tokoh-tokoh penting seperti Zita Anjani, Reni Apriyani, serta sejumlah pejabat daerah lainnya yang menunjukkan dukungan lintas sektor terhadap penguatan nilai kebhinekaan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Lampung Selatan, Made Sugriwa, menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah. Ia menilai keterlibatan aktif pemerintah dalam kegiatan keagamaan menjadi refleksi nyata dari inklusivitas pembangunan daerah yang tidak meninggalkan satu pun kelompok masyarakat.

“Momentum Nyepi yang beriringan dengan Ramadan adalah cermin indah toleransi. Ini bukan sekadar kebetulan waktu, tetapi pesan kuat tentang harmoni kehidupan,” ujarnya, merujuk pada tema Nyepi tahun ini, Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga.

Dalam sambutannya, Bupati Radityo Egi Pratama menekankan bahwa Dharma Santi bukan hanya seremoni, melainkan jembatan emosional yang menyatukan perbedaan. “Dharma Santi adalah jembatan hati, manifestasi ajaran luhur untuk merajut kembali persaudaraan,” tuturnya dengan penuh makna.

Lebih jauh, ia mengapresiasi masyarakat Bali di Lampung Selatan yang dinilai mampu menjaga keseimbangan antara modernitas dan tradisi. Dalam pandangannya, kekuatan budaya tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga aset strategis dalam pengembangan sektor pariwisata daerah.

Penegasan ini sejalan dengan visi pembangunan yang tidak semata berorientasi pada infrastruktur, melainkan juga pada penguatan karakter sosial masyarakat. Seni dan budaya Bali, menurutnya, merupakan magnet kultural yang mampu memperkaya wajah pariwisata Lampung Selatan sekaligus memperkuat identitas lokal.

Dalam konteks yang lebih luas, kegiatan Dharma Santi menjadi simbol bahwa pembangunan daerah tidak bisa dilepaskan dari harmoni sosial. Kerukunan bukan hanya nilai normatif, tetapi fondasi utama dalam menciptakan stabilitas dan kemajuan yang berkelanjutan.

Ajakan untuk terus menjaga persatuan pun menjadi penutup yang menguatkan pesan kebersamaan. Di tengah perbedaan yang tak terelakkan, justru harmoni menjadi kunci untuk melangkah maju.

“Kemajuan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kerukunan masyarakat,” tegasnya.

Melalui kegiatan ini, Pemkab Lampung Selatan tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai toleransi yang hidup dalam keseharian. Sebuah langkah kecil dengan dampak besar, dalam menjaga Indonesia tetap utuh dalam keberagaman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: