Kasus Campak Naik, DPRD Kota Bandar Lampung Pasang Alarm Kesehatan Anak
Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, Asroni Paslah--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Ketua Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, Asroni Paslah, menyampaikan sikap tegas menyikapi meningkatnya kasus campak di Kota Bandar Lampung berdasarkan hasil pemantauan Pemerintah Provinsi Lampung, Rabu 04 Februari 2026.
Asroni menilai lonjakan kasus tersebut bukan sekadar data statistik rutin, melainkan sinyal darurat yang menunjukkan adanya celah serius dalam sistem pencegahan penyakit menular, khususnya pada aspek kesiapan vaksinasi dan perlindungan kesehatan anak.
Menurut Asroni, campak merupakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah secara efektif melalui imunisasi.
Karena itu, meningkatnya kasus menjadi indikasi kuat adanya masalah dalam rantai pelayanan kesehatan dasar di daerah.
BACA JUGA:KAI Divre IV Tanjung karang Siapkan Strategi Khusus Hadapi Puncak Mudik Lebaran 2026
“Campak itu penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi. Jika kasus meningkat, maka ada yang tidak beres dalam sistem perlindungan kesehatan anak kita,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pencegahan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar respons setelah jumlah kasus terus bertambah.
Informasi yang diterima Komisi IV menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan dan ketersediaan vaksin campak di Bandar Lampung.
Kebutuhan vaksin diperkirakan mencapai puluhan ribu dosis, sementara stok yang tersedia hanya ratusan vial.
BACA JUGA:KAI Divre IV Tanjung karang Matangkan Persiapan Angkutan Lebaran 2026, Puluhan Ribu Kursi Disiapkan
Kondisi ini berarti cakupan vaksinasi belum mampu menjangkau bahkan lima persen dari kebutuhan riil.
Situasi tersebut dinilai sangat berisiko dan berpotensi mempercepat penyebaran campak apabila tidak segera ditangani secara sistematis dan terkoordinasi.
Komisi IV mengingatkan bahwa standar kekebalan kelompok atau herd immunity mensyaratkan cakupan imunisasi minimal 95 persen. Jika angka ini tidak tercapai, potensi wabah akan terus membayangi masyarakat.
Asroni menegaskan bahwa penurunan cakupan imunisasi sekecil apa pun dapat berdampak besar terhadap peningkatan kasus.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
