Pelaminan Rumah Adat Palembang: Simbol Kehormatan dan Doa Kehidupan
Pelaminan rumah adat Palembang merupakan cerminan nilai budaya yang menjunjung tinggi kehormatan, keseimbangan, dan kebersamaan. Foto:Instagram@suryantodecoration--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Pelaminan rumah adat Palembang merupakan salah satu unsur terpenting dalam prosesi pernikahan adat masyarakat Palembang, Sumatra Selatan.
Pelaminan tidak hanya berfungsi sebagai tempat duduk bagi kedua mempelai, tetapi juga menjadi simbol kemuliaan, kehormatan, serta harapan akan kehidupan rumah tangga yang sejahtera. Keindahan pelaminan Palembang mencerminkan kekayaan budaya lokal yang tumbuh dari perpaduan tradisi Melayu, nilai-nilai Islam, dan warisan sejarah masa lalu.
Dalam pandangan masyarakat Palembang, pernikahan adalah peristiwa sakral yang menandai perubahan besar dalam kehidupan seseorang. Oleh sebab itu, setiap unsur dalam upacara pernikahan memiliki makna mendalam, termasuk pelaminan.
Kehadiran pelaminan menjadi pusat perhatian karena di sanalah pengantin diperlakukan sebagai sosok yang dihormati, layaknya raja dan ratu dalam satu hari istimewa.
BACA JUGA:Menyusuri Jejak Sejarah di Museum Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon
Posisi Pelaminan dalam Tata Ruang Adat
Pelaminan biasanya ditempatkan di bagian utama rumah atau ruang acara. Dalam tradisi lama, pelaminan diletakkan di tempat yang lebih tinggi dari area tamu. Posisi ini bukan tanpa alasan, melainkan melambangkan derajat dan tanggung jawab baru yang diemban oleh pengantin setelah menikah.
Penataan ini memiliki keterkaitan erat dengan konsep rumah adat Limas, rumah tradisional Palembang yang bertingkat. Tingkatan dalam rumah Limas melambangkan tahapan kehidupan manusia.
Pelaminan yang berada di posisi tinggi mencerminkan fase baru kehidupan, di mana pasangan pengantin diharapkan mampu menjalani peran sebagai pemimpin keluarga dengan bijaksana.
BACA JUGA:Pemkot Bandar Lampung Siapkan BOSDA 2026, Pungutan Uang Komite SMPN Dihapus
Bentuk dan Unsur Pelaminan
Secara visual, pelaminan rumah adat Palembang dikenal dengan tampilannya yang megah dan berwibawa. Kursi pengantin dirancang menyerupai singgasana, biasanya terbuat dari kayu dengan ukiran halus.
Ukiran tersebut didominasi motif tumbuhan, seperti bunga dan sulur, yang melambangkan kehidupan, pertumbuhan, dan harapan akan masa depan yang berkelanjutan.
Bagian belakang pelaminan dihiasi kain songket Palembang yang disusun secara bertingkat. Songket dipilih bukan hanya karena keindahannya, tetapi juga karena nilai filosofisnya. Kain ini dihasilkan melalui proses panjang yang membutuhkan ketelatenan, sehingga menjadi simbol kerja keras dan ketekunan dalam membangun kehidupan bersama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
