Tarian Sufi: Spiritualitas dalam Gerak dan Putaran
Tarian sufi menggabungkan gerak, musik, dan zikir sebagai bentuk ibadah penuh spiritualitas-Foto Pexels.com-
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Tarian sufi, yang juga dikenal sebagai Tarian Darwis Berputar (Sema), merupakan salah satu ekspresi spiritual paling terkenal dalam tradisi Islam tasawuf.
Tarian ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah ritual ibadah yang sarat makna filosofis dan spiritual.
Melalui gerakan berputar yang khas, para penari sufi berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan dengan cara mengosongkan ego dan menyelaraskan jiwa dengan alam semesta.
BACA JUGA:Museum Seni Islam dan Tari Turki, Warisan Budaya Sarat Makna
Asal-usul Tarian Sufi
Tarian sufi berkembang pada abad ke-13 di wilayah Anatolia (Turki modern), dan sangat erat kaitannya dengan tokoh besar sufi, Jalaluddin Rumi. Rumi adalah seorang penyair, filsuf, dan ulama tasawuf yang ajarannya menekankan cinta universal dan hubungan langsung antara manusia dengan Tuhan.
Setelah wafatnya Rumi, para muridnya membentuk Ordo Mevlevi, sebuah tarekat sufi yang kemudian menjadikan tarian berputar sebagai bagian penting dari ritual spiritual mereka.
Ritual Sema awalnya dilakukan di lingkungan tarekat sebagai bentuk zikir dan kontemplasi. Namun seiring waktu, tarian ini dikenal luas dan menjadi salah satu ikon budaya Turki yang diakui dunia.
Meski kini sering dipentaskan untuk umum, esensi spiritual tarian sufi tetap dijaga oleh para praktisinya.
BACA JUGA:Seni dan Arsitektur Turki: Jejak Keindahan Islam dari Masa Utsmaniyah
Makna Filosofis Gerakan
Setiap gerakan dalam tarian sufi memiliki simbolisme yang mendalam. Gerakan berputar melambangkan peredaran planet di alam semesta, sekaligus perjalanan spiritual manusia menuju Tuhan. Penari berputar dari kiri ke kanan, mengikuti arah jarum jam, sebagai simbol harmoni kosmik.
Posisi tangan juga mengandung makna khusus. Tangan kanan menghadap ke atas, melambangkan penerimaan rahmat dari Tuhan, sementara tangan kiri menghadap ke bawah, sebagai simbol penyaluran rahmat tersebut kepada bumi dan sesama manusia. Dengan demikian, penari sufi dipandang sebagai perantara antara langit dan bumi.
Gerakan kepala yang sedikit miring ke kanan mencerminkan sikap kerendahan hati dan kepasrahan total kepada kehendak Ilahi. Seluruh rangkaian gerak ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusyukan, bukan sekadar mengikuti irama musik.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




