Maraknya Akun Telegram Palsu, Investor Diminta Waspadai Modus Penipuan Titip Dana

Maraknya Akun Telegram Palsu, Investor Diminta Waspadai Modus Penipuan Titip Dana

Penipuan investasi melalui Telegram semakin rapi dan menyasar investor digital--

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Pertumbuhan investasi digital di Indonesia terus menunjukkan tren positif. Masyarakat kini semakin mudah mengakses berbagai instrumen keuangan, mulai dari saham global hingga aset kripto. 

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul ancaman serius berupa kejahatan siber yang menyasar investor dengan memanfaatkan rendahnya literasi digital sebagian pengguna.

Dalam beberapa waktu terakhir, modus penipuan yang mengatasnamakan perusahaan investasi kembali marak. Salah satu platform investasi digital di Indonesia bahkan mengeluarkan peringatan resmi kepada publik terkait banyaknya akun Telegram palsu yang menggunakan identitas perusahaan tanpa izin. 

Akun-akun tersebut sengaja dibuat menyerupai kanal resmi, lengkap dengan logo dan nama yang hampir identik, sehingga sulit dibedakan oleh investor awam.

BACA JUGA:Wali Kota Eva Dwiana Minta Perusahaan di Bandar Lampung Patuhi UMK 2026

Modus Penipuan Semakin Rapi dan Meyakinkan

Pelaku penipuan umumnya memulai aksinya dengan menghubungi calon korban melalui pesan pribadi di Telegram. 

Mereka menawarkan berbagai iming-iming, mulai dari peluang keuntungan besar dalam waktu singkat, undangan bergabung ke grup investasi eksklusif, hingga janji pendampingan trading oleh mentor profesional.

Salah satu modus yang paling sering digunakan adalah penawaran titip dana. Korban diminta menyerahkan sejumlah uang dengan janji dana tersebut akan dikelola oleh pihak tertentu untuk menghasilkan keuntungan tinggi. 

BACA JUGA:Harga Cabai Rawit di Bandar Lampung Masih Tinggi, Disdag Pastikan Stok Tetap Aman

Sayangnya, tawaran ini biasanya disampaikan tanpa penjelasan risiko yang rasional dan tidak disertai transparansi mekanisme investasi.

Untuk meningkatkan kepercayaan korban, pelaku kerap menggunakan nama akun yang sangat mirip dengan akun resmi perusahaan. 

Perbedaannya hanya terletak pada satu atau dua huruf, tambahan angka, atau simbol tertentu. 

Tak jarang, korban juga diarahkan untuk mengklik tautan di luar situs resmi yang berpotensi digunakan untuk mencuri data pribadi atau mengambil alih akun korban.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: