Laklak Bali: Jajanan Tradisional yang Sarat Makna dan Cita Rasa
Laklak Bali tetap bertahan di tengah jajanan modern dengan rasa autentik.--
MEDIALAMPUNG.CO.ID – Laklak merupakan salah satu jajanan tradisional khas Bali yang hingga kini masih bertahan di tengah gempuran kuliner modern.
Sekilas tampilannya menyerupai serabi, namun laklak memiliki karakteristik tersendiri dari segi bahan, warna, rasa, hingga cara penyajian.
Lebih dari sekadar camilan, laklak menyimpan nilai budaya dan spiritual yang kuat dalam kehidupan masyarakat Bali.
BACA JUGA:Polresta Bandar Lampung Salurkan 300 Paket Sembako, Perkuat Kepedulian Sosial di Akhir Tahun
Asal Usul dan Nilai Budaya Laklak
Laklak telah dikenal sejak lama sebagai bagian dari warisan kuliner tradisional Bali. Kue ini kerap dihidangkan dalam berbagai kegiatan adat dan upacara keagamaan, terutama sebagai bagian dari persembahan atau banten.
Dalam konteks budaya Bali, laklak melambangkan kesederhanaan, kebersamaan, serta ungkapan rasa syukur atas limpahan hasil alam.
Hingga saat ini, laklak masih mudah ditemukan di pasar tradisional maupun dijajakan oleh pedagang kaki lima, khususnya pada pagi hari.
Keberadaannya menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, meski zaman terus berkembang.
BACA JUGA:Pinjam Uang Lewat DANA Premium Jadi Solusi Cepat, Ini Cara Aman dan Resminya
Bahan Utama dan Ciri Khas Laklak
Laklak dibuat dari bahan-bahan sederhana yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Bali.
Tepung beras menjadi bahan utama yang dipadukan dengan santan, garam secukupnya, serta air daun pandan atau daun suji yang berfungsi sebagai pemberi aroma sekaligus warna alami.
Adonan laklak dimasak menggunakan cetakan tanah liat atau wajan kecil khusus. Proses ini menghasilkan bagian bawah kue yang cenderung kering, sementara bagian atasnya lembut dan sedikit berpori. Warna laklak umumnya hijau atau putih, tergantung pada penggunaan pewarna alami.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




