Tradisi Topeng Menor: Warisan Betawi yang Lucu dan Penuh Warna

Tradisi Topeng Menor: Warisan Betawi yang Lucu dan Penuh Warna

Topeng Menor bisa terus hidup, menghibur, dan menjadi pengingat bahwa tawa adalah bagian penting dari kehidupan. - Foto:Instagram@irfanhakim75--

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan tradisi dan seni pertunjukan yang luar biasa. Hampir di setiap daerah kita bisa menemukan kesenian khas yang mencerminkan cara hidup, nilai, serta karakter masyarakat setempat. 

Dari sekian banyak tradisi itu, salah satu yang cukup unik berasal dari masyarakat Betawi, yaitu Topeng Menor.

Walau namanya “topeng”, kesenian ini justru lebih terkenal karena dandanan pemainnya yang mencolok. 

Kata menor sendiri dalam bahasa Betawi berarti riasan berlebihan, sesuatu yang tampak heboh dan penuh warna. Inilah yang membuat Topeng Menor tampil berbeda dari pertunjukan tradisional lainnya.

BACA JUGA:Mie Kopyok: Kuliner Tradisional Khas Semarang yang Melegenda

Jejak Sejarah

Topeng Menor tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat Betawi yang sejak dahulu akrab dengan interaksi berbagai budaya. Jakarta, sebagai kota pelabuhan, mempertemukan banyak etnis: Jawa, Sunda, Arab, Cina, hingga Portugis. 

Dari pertemuan budaya itu lahirlah bentuk-bentuk kesenian baru yang berkarakter khas, salah satunya Topeng Menor.

Pada awalnya, kesenian ini muncul sebagai hiburan dalam acara keluarga maupun pesta rakyat, misalnya saat pernikahan, khitanan, atau perayaan syukuran. Selain menjadi sarana penghibur, Topeng Menor juga diyakini membawa suasana ceria dan menjadi doa agar acara berlangsung lancar.

BACA JUGA:Wingko Babat, Jajanan Tradisional dengan Rasa Manis Gurih

Ciri Unik Pertunjukan

Topeng Menor mudah dikenali dari ciri-ciri khasnya yang membuat penonton langsung tertawa atau tersenyum begitu melihat para pemain naik ke panggung.

1. Dandanan Wajah

Riasan pemain dibuat berlebihan: pipi merah terang, bibir tebal dengan lipstik mencolok, serta alis digambar hitam pekat. Wajah mereka seolah memakai topeng, padahal hanya hasil tata rias.

BACA JUGA:Tradisi 17 Agustusan di Nusantara: Meriah, Sederhana, dan Penuh Makna

2. Pakaian Berwarna-warni

Kostum yang dikenakan tidak kalah menarik. Warna mencolok seperti merah, kuning, hijau, dan biru mendominasi. Terkadang dilengkapi dengan asesoris kepala yang meriah, menambah kesan jenaka.

3. Musik Pengiring

Pertunjukan biasanya diiringi gambang kromong atau tanjidor, musik tradisional Betawi yang berirama riang. Suara musik inilah yang memberi semangat pada penonton untuk ikut bergoyang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: