Balap Motor Listrik: Masa Depan Motorsport Dunia?

Balap Motor Listrik: Masa Depan Motorsport Dunia?

MotoE buktikan motor listrik mampu bersaing di lintasan, meski tanpa raungan mesin konvensional.--

MEDIALAMPUNG.CO.ID – Dunia motorsport tengah memasuki babak baru dengan hadirnya balap motor listrik. Jika selama puluhan tahun suara raungan mesin konvensional menjadi ikon balapan, kini teknologi ramah lingkungan mulai mengambil tempat di lintasan sirkuit.

Pertanyaannya, apakah balap motor listrik benar-benar menjadi masa depan motorsport dunia?

Balapan motor listrik muncul seiring meningkatnya tren elektrifikasi di industri otomotif.

Ajang seperti MotoE World Championship, yang menjadi bagian dari kalender MotoGP, menjadi bukti bahwa motor listrik tidak hanya sebatas kendaraan harian, tetapi juga bisa berkompetisi di level internasional.

BACA JUGA:Lampung Perkuat Pengawasan Pupuk Subsidi, Serapan Masih Rendah

Dengan motor yang sepenuhnya digerakkan tenaga baterai, ajang ini menawarkan pengalaman baru baik bagi pebalap maupun penonton.

Meski tanpa suara bising mesin, sensasi kecepatan tetap terasa berkat akselerasi instan khas motor listrik.

Motor balap listrik dilengkapi dengan baterai berkapasitas besar, sistem pendinginan canggih, hingga kontrol elektronik yang presisi.

Kecepatan puncak sudah mampu menyaingi motor bermesin bensin di beberapa kelas, sementara akselerasinya bahkan lebih cepat berkat torsi instan.

BACA JUGA:Nikita Mirzani Gugat Lagi Reza Gladys, Tuntut Rp114 Miliar dan Minta Aset Disita

Produsen besar seperti Ducati kini sudah ikut terjun sebagai pemasok resmi motor di ajang MotoE, yang semakin menegaskan keseriusan industri dalam mengembangkan balap motor listrik.

Meski memiliki potensi besar, balap motor listrik masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah durasi balapan yang terbatas akibat kapasitas baterai.

Selain itu, infrastruktur pengisian daya di sirkuit juga menjadi faktor penting yang harus terus dikembangkan.

Di sisi lain, sebagian penggemar motorsport masih merasa kehilangan atmosfer klasik balapan, terutama suara mesin yang menjadi ciri khas kompetisi konvensional.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: