Danau Poso: Keindahan Purba dan Legenda Naga Bercahaya
Danau Poso yang menyimpan legenda. - Foto instagram @tana_poso--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Sulawesi Tengah dikenal sebagai provinsi dengan bentang alam yang nyaris sempurna.
Dari gugusan pegunungan, dataran tinggi, lembah luas, hingga garis pantai yang memanjang, semuanya tersaji dalam satu wilayah.
Namun, di balik keragaman tersebut, terdapat sebuah danau yang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat lokal, tetapi juga menyimpan cerita kuno yang penuh daya tarik.
Danau itu bernama Danau Poso, sebuah permata alam yang menampilkan keindahan sekaligus kisah legenda yang masih dipercaya hingga kini.
BACA JUGA:Es Kelapa Nipis Madu: Segar, Sehat, dan Penuh Manfaat
Danau Raksasa di Jantung Sulawesi
Danau Poso berada di kawasan Tentena, Kabupaten Poso, sekitar 57 kilometer dari pusat kota. Perairan ini memiliki ukuran yang luar biasa, dengan panjang mencapai 32 kilometer, lebar sekitar 16 kilometer, serta kedalaman maksimal hingga 450 meter.
Dengan karakteristik tersebut, Danau Poso menempati posisi sebagai danau ketiga terbesar sekaligus terdalam di Indonesia, setelah Danau Toba di Sumatera Utara dan Danau Towuti di Sulawesi Selatan.
Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, Danau Poso bukan sekadar sumber air dan tempat mencari ikan, melainkan simbol kebanggaan yang melekat erat dalam kehidupan mereka. Panorama yang indah membuat danau ini menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan yang ingin menikmati keheningan sekaligus kemegahan alam di jantung Pulau Sulawesi.
BACA JUGA:5 Tanaman Hias Langka dengan Harga Mencengangkan
Pesisir yang Menyerupai Pantai
Keistimewaan yang jarang dimiliki danau lain adalah tepiannya yang menyerupai pantai. Hamparan pasir berwarna putih kekuningan terhampar luas di sepanjang bibir danau, menciptakan nuansa serupa berada di tepian laut. Airnya bening dengan gradasi biru kehijauan yang memantulkan cahaya matahari, menghadirkan pemandangan memukau.
Bedanya, riak air di Danau Poso jauh lebih tenang dibandingkan gelombang laut, serta tentu saja airnya tawar.
Sensasi inilah yang membuat banyak wisatawan merasa seperti sedang berjalan di pantai, meski sejatinya mereka sedang berdiri di tepi sebuah danau purba yang sudah berusia jutaan tahun.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
