Pasola: Tradisi Sakral dari Sumba, Nusa Tenggara Timur
Pasola adalah warisan budaya yang menggabungkan keberanian, keterampilan, dan keyakinan spiritual. Foto:Instagram@_blackpo--
MEDIALAMPUNG.CO.ID - Indonesia terkenal akan kekayaan budayanya yang beragam, dan salah satu tradisi yang paling unik sekaligus ikonik berasal dari Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tradisi itu bernama Pasola, sebuah ritual yang memadukan keterampilan berkuda, keberanian, dan kepercayaan adat yang diwariskan turun-temurun.
Hingga kini, Pasola tetap dilaksanakan setiap tahun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Sumba, khususnya di wilayah Wanokaka, Kabupaten Sumba Barat.
Kata “Pasola” merujuk pada tombak kayu yang digunakan dalam pertarungan. Ritual ini dilakukan oleh dua kelompok penunggang kuda yang saling melempar tombak tumpul di lapangan terbuka.
BACA JUGA:Seba di Banten: Perjalanan Adat Suku Baduy yang Penuh Makna
Bagi masyarakat setempat, pertarungan ini bukan sekadar hiburan, melainkan upacara sakral yang diyakini dapat membawa berkah bagi hasil pertanian.
Darah yang tertumpah selama Pasola dipandang sebagai persembahan untuk leluhur dan kekuatan alam, dengan harapan tanah menjadi subur dan panen berikutnya melimpah.
Karena itulah, meskipun mengandung risiko cedera, Pasola dijalankan dengan penuh kesungguhan.
Pasola umumnya dilangsungkan pada Februari atau Maret, menyesuaikan dengan kalender adat dan tanda-tanda alam.
BACA JUGA:Tatung di Singkawang: Ritual Magis dan Pesona Budaya Cap Go Meh
Penentuan tanggal dilakukan oleh para tetua adat melalui pengamatan terhadap kemunculan Nyale—cacing laut yang muncul di pesisir pantai.
Kemunculan Nyale menjadi pertanda bahwa musim tanam akan segera tiba, sehingga Pasola pun bisa dimulai.
Sebelum hari pelaksanaan, warga mengikuti serangkaian ritual adat. Salah satunya adalah tradisi menangkap Nyale di tepi pantai, yang dipercaya membawa keberuntungan dan menjadi simbol kesuburan. Nyale yang diperoleh akan digunakan dalam berbagai prosesi adat.
Selain itu, para tetua adat memimpin doa-doa dan persembahan untuk memohon perlindungan leluhur, kelancaran acara, serta hasil pertanian yang baik. Persiapan ini menjadi momen kebersamaan yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
