Dorongan Baterai EV Berbasis Nikel Perlu Perhitungan Ekonomi yang Matang

Dorongan Baterai EV Berbasis Nikel Perlu Perhitungan Ekonomi yang Matang

Berdasarkan penelitian baterai mobil listrik ternyata tidak mudah terdegradasi.-freepik.com-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai bahwa rencana pemerintah untuk mendorong penggunaan baterai berbasis nikel pada mobil listrik harus disertai kajian menyeluruh, khususnya terkait skala keekonomian dan kesiapan industri.

Sekretaris Umum Gaikindo, Kukuh Kumara, menjelaskan bahwa arahan tersebut memang sejalan dengan upaya meningkatkan nilai tambah sumber daya alam nasional. 

Namun, tanpa perhitungan ekonomi yang tepat, produsen kendaraan listrik kemungkinan enggan berinvestasi besar-besaran.

“Arahan pemerintah bagus, tetapi faktor penentunya adalah keekonomian. Jika biaya tidak kompetitif, pabrikan akan berpikir dua kali untuk masuk,” ujar Kukuh, Senin (11 Agustus 2025).

BACA JUGA:Uji Jarak Tempuh: Tesla, BYD hingga Kia Tak Capai Klaim Resmi di Tes Australia

Nikel Lokal Dorong TKDN, Tapi Tak Bisa Disamaratakan

Kukuh menuturkan, penggunaan nikel dalam negeri memang berpotensi meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Tapi ternyata kebijakan ini tidak dapat dipukul rata untuk semua produsen. Sebab masing-masing merk memiliki teknologi, strategi bisnis dan kesiapan pabrik yang berbeda-beda.

Pembuatan baterai sendiri bukan sekadar mencetak sel lalu langsung dipasang pada kendaraan. Setiap produsen memiliki formula, metode, dan rahasia teknis tersendiri yang sangat memengaruhi performa baterai.

“Performa baterai sangat tergantung pada teknologi masing-masing merek. Tidak semua bisa langsung beralih begitu saja,” tegasnya.

BACA JUGA:8 Mobil Listrik Terjangkau di Bawah Rp100 Juta, Pilihan Tepat untuk Pemula EV

Tantangan Kapasitas Produksi dan Pasar

Gaikindo juga melihat kapasitas produksi kendaraan listrik di Indonesia saat ini masih relatif kecil. 

Jika ekosistem baterai nikel ingin dikembangkan dalam skala besar, pasar domestik harus memiliki volume penjualan yang memadai agar biaya produksi dapat ditekan dan mampu bersaing di pasar global.

Tanpa permintaan yang tinggi, harga baterai akan sulit kompetitif. Apalagi, industri baterai termasuk padat modal dan memerlukan kepastian pasar jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: