Forensik Digital Ungkap Jejak Lama Keinginan Bunuh Diri Diplomat Arya Daru

Forensik Digital Ungkap Jejak Lama Keinginan Bunuh Diri Diplomat Arya Daru

Diplomat Kementerian Luar Negeri RI Arya Daru Pangayunan. Foto Instagram--

MEDIALAMPUNG.CO.ID — Penyelidikan atas kematian diplomat Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Arya Daru Pangayunan (39), terus bergulir. Tim digital forensik yang dilibatkan dalam kasus ini menemukan indikasi bahwa Arya telah menyimpan niat untuk mengakhiri hidupnya jauh sebelum peristiwa tragis di awal Juli lalu.

Temuan penting muncul dari pemeriksaan perangkat komunikasi milik Arya. Berdasarkan hasil analisis, terungkap bahwa Arya pernah mengirimkan surat elektronik berisi ungkapan keinginan bunuh diri ke sebuah badan amal yang dikenal menyediakan layanan dukungan psikologis bagi individu dengan beban emosional berat. Email tersebut dikirim melalui akun pribadi miliknya pada tahun 2013.

Lebih lanjut, tim forensik berhasil mengidentifikasi dua segmen waktu yang mencatat ekspresi niat serupa. Segmen pertama ditemukan terjadi antara Juni hingga Juli 2013, sedangkan segmen kedua berlangsung pada rentang waktu akhir September hingga awal Oktober 2021. 

Seluruh pesan dalam kedua periode itu menunjukkan pola yang konsisten: adanya tekanan batin yang mendalam hingga muncul dorongan kuat untuk mengakhiri hidup.

BACA JUGA:Golkar Tegaskan Pentingnya Ambang Batas Parlemen untuk Jaga Kualitas DPR

Dalam pengungkapan lainnya, forensik digital juga menyisir 20 titik kamera pengawas yang merekam aktivitas Arya di sejumlah lokasi strategis seperti kantor Kementerian Luar Negeri, pusat perbelanjaan Grand Indonesia, serta tempat kos terakhir yang ditinggalinya. 

Dari serangkaian analisis mendalam terhadap metadata wajah, alur gambar per detik (frame by frame), hingga komposisi kelompok gambar (GOP), tidak ditemukan satu pun indikasi tindakan kekerasan fisik terhadap Arya.

Proses analisis ini mengikuti prosedur standar internasional, yaitu ISO 17025, 27037, dan 27042, yang mencakup tahap pengumpulan, perolehan data, serta investigasi terhadap bukti digital. Seluruh hasil temuan telah diserahkan kepada penyidik yang menangani kasus ini.

Arya ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada 8 Juli 2025. Kasus ini sempat memicu spekulasi di ruang publik karena sejumlah kejanggalan yang muncul, mulai dari lakban di wajah jenazah hingga tidak ditemukannya tanda-tanda kekerasan.

BACA JUGA:Lifu Lada: Pesona Sunyi dari Timur Nusantara

Namun, berdasarkan hasil penyelidikan terkini yang juga didukung autopsi dan keterangan ahli forensik, tidak ada senyawa toksin yang ditemukan di tubuh Arya. Polisi bahkan menyimpulkan bahwa kematian tersebut disebabkan oleh mati lemas tanpa keterlibatan pihak lain.

Seiring temuan demi temuan yang mengemuka, potret kondisi psikologis Arya Daru semakin tergambar. Beberapa pihak menilai bahwa Arya sempat mengalami burnout berat menjelang akhir hayatnya. 

Namun, teka-teki soal latar belakang tekanan mental dan bagaimana Arya memendam beban emosional selama bertahun-tahun masih terus menjadi perhatian penyidik dan publik.

Kasus kematian diplomat muda ini belum ditutup. Polisi masih terus melakukan pendalaman, termasuk memeriksa saksi-saksi tambahan dan menelusuri kemungkinan faktor eksternal yang mungkin ikut berperan. Sementara itu, publik menanti kejelasan penuh di tengah tabir misteri yang perlahan mulai terbuka. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: