Zaman Serba Digital, Pedagang Pasar Pasir Gintung Terancam Gulung Tikar

Zaman Serba Digital, Pedagang Pasar Pasir Gintung Terancam Gulung Tikar

Tren belanja online membuat banyak pasar di Bandar Lampung mulai sepi pembeli-Foto Riko-

MEDIALAMPUNG.CO.ID — Perubahan gaya belanja masyarakat yang kini beralih ke platform digital membuat pedagang di sejumlah pasar tradisional di Bandar Lampung seperti Pasar Pasir Gintung, Pasar Bambu Kuning, hingga Mall Simpur, mulai merasa terpinggirkan. 

Pembeli yang kian sepi membuat omzet pedagang menurun drastis, bahkan beberapa di antaranya terancam gulung tikar.

Bukan hanya sayuran dan buah-buahan, kini bahan pokok seperti beras, minyak, hingga lauk-pauk pun bisa dibeli secara online dengan harga bersaing.

Berbagai platform e-commerce menawarkan kemudahan yang sulit dilawan oleh pedagang tradisional, seperti gratis ongkir, cashback, dan diskon besar-besaran.

BACA JUGA:Kejari Lampung Utara Segera Tetapkan Tersangka Kasus Pupuk dan RSD Ryacudu

Menurut pengakuan Asmin, salah satu pedagang di Pasar Pasir Gintung, tren penurunan pembeli ini sudah berlangsung cukup lama. Ia mengeluhkan bahwa pengaruh era digital membuat masyarakat semakin malas berbelanja langsung ke pasar.

“Memang sudah mulai menurun minat masyarakat untuk membeli, sehingga kadang dapat merugi karena tidak ada yang beli,” ujarnya saat ditemui pada Selasa, 8 Juli 2025.

Asmin menyebut kondisi ini sebagai konsekuensi dari perubahan zaman yang serba digital. Masyarakat kini terbiasa membeli apa pun secara instan tanpa perlu datang ke tempat penjual.

“Ya tidak tahu juga, cuma bukan tidak mungkin akan gulung tikar juga yang lain, termasuk saya,” tambahnya dengan nada pesimis.

BACA JUGA:SK PPPK Lampung Utara Belum Terbit, Kasus Pemalsuan Dokumen Jadi Kendala

Di sisi lain, para pedagang juga menghadapi tantangan ketidaksiapan dalam menghadapi perubahan teknologi. 

Minimnya pemahaman tentang digital marketing, keterbatasan akses ke sistem pembayaran online, hingga kurangnya inovasi dalam menarik pembeli jadi penghambat utama.

Salah satu solusi yang bisa didorong adalah edukasi kepada para pedagang mengenai potensi pasar tradisional sebagai pusat wisata kuliner dan budaya. 

Dengan pendekatan baru tersebut, pasar tradisional bisa menawarkan pengalaman unik yang tak bisa digantikan oleh toko online.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: