AI Kini Bisa Memprediksi Badai Matahari Sebelum Terjadi

AI Kini Bisa Memprediksi Badai Matahari Sebelum Terjadi

Dengan AI, para ilmuwan kini bisa memprediksi peristiwa CME dan dampaknya terhadap Bumi lebih efektif-Canva Dream Lab-

MEDIALAMPUNG.CO.ID - Teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat dan kini mulai merambah ke dunia astronomi

Salah satu pencapaian terbarunya adalah kemampuannya dalam memprediksi fenomena badai Matahari sebelum terjadi.

Ini menjadi terobosan besar bagi para fisikawan surya yang selama ini menghadapi tantangan besar dalam memahami aktivitas Matahari yang penuh ketidakpastian.

Salah satu aktivitas Matahari yang sulit diprediksi adalah lontaran massa korona (CME). 

CME adalah ledakan besar plasma yang terlontar dari korona Matahari akibat gangguan pada medan magnetiknya. 

Peristiwa ini sering dikaitkan dengan suar Matahari dan dapat terjadi secara tiba-tiba.

CME dapat melaju dengan kecepatan mulai dari beberapa ratus hingga beberapa ribu kilometer per detik. 

Jika lintasannya menuju Bumi, lontaran ini dapat mencapai kita dalam hitungan hari. 

Saat CME menghantam Bumi, interaksi dengan magnetosfer dapat menyebabkan badai geomagnetik, yang berpotensi mengganggu komunikasi satelit, sistem GPS, serta jaringan listrik. 

Selain itu, CME juga bisa menciptakan tampilan aurora yang spektakuler di kutub utara dan selatan.

Memperkirakan kapan CME akan terjadi dan seberapa besar dampaknya merupakan tantangan besar bagi para ilmuwan. Namun, dengan bantuan AI, tantangan ini mulai menemukan solusi.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Sabrina Guastavino dari University of Genoa berhasil menggunakan teknologi AI untuk menganalisis aktivitas Matahari selama beberapa dekade. 

Algoritma pembelajaran mesin ini mampu mendeteksi pola-pola kompleks yang tidak bisa dikenali oleh metode konvensional.

AI diterapkan untuk memprediksi aktivitas di area AR13664, yang diketahui menjadi pusat badai Matahari besar pada Mei 2024. 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: